
بِسْمِ
اللهِ
الرَّحْمنِ
الرَّحِيْمِ
Imam Syafi'i berkata :لاَ قَوْلَ ِلاَحَدٍ مَعَ سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ ص.
Tidak boleh diterima perkataan seseorang jika berlawanan dengan sunnah Rasulullah SAW.
اِذَا صَحَّ اْلحَدِيْثُ فَهُوَ مَذْهَبِى.
Apabila telah shah satu hadits, maka itulah madzhabku.
اِذَا صَحَّ خَبَرٌ يُخَالِفُ مَذْهَبِى فَاتَّبِعُوْهُ وَاعْلَمُوْا اَنَّهُ مَذْهَبِى.
Apabila telah shah khabar dari Nabi SAW yang menyalahi madzhabku, maka ikutilah khabar itu, dan ketahuilah bahwa itulah madzhabku.
كُلُّ مَسْأَلَةٍ تَكَلَّمْتُ فِيْهَا صَحَّ اْلخَبَرُ فِيْهَا عَنِ النَّبِيّ ص عِنْدَ اَهْلِ النَّقْلِ بِخِلاَفِ مَا قُلْتُ، فَاَنَا رَاجِعٌ عَنْهَا فِى حَيَاتِى وَ بَعْدَ مَمَاتِى.
Tiap-tiap masalah yang pernah saya bicarakan, kemudian ada hadits yang riwayatnya sah dari Rasulullah SAW dalam masalah itu di sisi ahli hadits dan menyalahi fatwaku, maka aku ruju' (tarik kembali) dari fatwaku itu diwaktu aku masih hidup maupun sesudah mati.
اِذَا وَجَدْتُمْ فِى كِتَابِى خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ ص فَقُوْلُوْا بِسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ.
Apabila kalian dapati di dalam kitabku sesuatu yang menyalahi sunnah Rasulullah SAW, maka hendaklah kalian berkata dengan sunnah Rasulullah SAW (dan tinggalkanlah perkataanku).
اِذَا وَجَدْتُمْ قَوْلِى يُخَالِفُ قَوْلَ رَسُوْلِ اللهِ ص فَاضْرِبُوْا بِقَوْلِى عُرْضَ اْلحَائِطِ.
Apabila kalian mendapati pendapatku menyalahi perkataan Rasulullah SAW, maka lemparkanlah pendapatku ketepi dinding.
مَا قُلْتُ وَكَانَ النَّبِيُّ ص قَدْ قَالَ بِخِلاَفِ قَوْلِى فَمَا صَحَّ مِنْ حَدِيْثِ النَّبِيّ ص اَوْلَى وَ لاَ تُقَلّدُوْنِى.
Apasaja yang telah aku katakan, apabila Nabi SAW telah mengatakan dengan menyalahi perkataanku, maka apa yang telah shah dari hadits Nabi SAW itulah yang lebih pantas (untuk diambil), dan janganlah kalian bertaqlid kepadaku.
اِذَا صَحَّ اْلحَدِيْثُ عَلَى خِلاَفِ قَوْلِى فَاضْرِبُوْا قَوْلِى بِاْلحَائِطِ وَاعْمَلُوْا بِاْلحَدِيْثِ الضَّابِطِ.
Apabila telah sah suatu hadits dan menyalahi pendapatku, maka buanglah pendapatku ke arah dinding, dan amalkanlah olehmu dengan hadits yang kokoh kuat itu.
كُلُّ شَيْئٍ خَالَفَ اَمْرَ رَسُوْلِ اللهِ ص سَقَطَ، وَلاَ يَقُوْمُ مَعَهُ رَأْيٌ وَلاَ قِيَاسٌ
Tiap-tiap sesuatu yang menyalahi perintah Rasulullah SAW jatuhlah ia, dan tidak bisa digunakan bersamanya pendapat dan tidak pula qiyas.
Imam Syafi'i berkata kepada Abu Ishaq :
يَا اَبَا اِسْحَاقَ لاَ تُقَلّدْنِى فِى كُلّ مَا اَقُوْلُ وَ انْظُرْ فِى ذَالِكَ لِنَفْسِكَ فَاِنَّهُ دِيْنٌ.
Hai Abu Ishaq, janganlah kamu bertaqlid kepadaku pada setiap apa yang aku katakan, dan perhatikanlah yang demikian itu untuk dirimu, karena ia itu agama.
Perkataan Imam Syafi'i di atas jelas melarang orang bertaqlid kepada madzhab beliau, dan memerintahkan supaya orang beragama itu mengikuti kitab Allah dan sunnah Nabi SAW.
Imam Ahmad bin Hanbal berkata :
لاَ تُقَلّدْنِى وَ لاَ مَالِكًا وَ لاَ الشَّافِعِيَّ وَ لاَ اْلاَوْزَاعِيَّ وَ لاَ الثَّوْرِيَّ وَ خُذْ مِنْ حَيْثُ اَخَذُوْا.
Jangan engkau bertaqlid kepadaku, jangan kepada Malik, jangan kepada Syafi'i dan jangan kepada Al-Auza'iy dan jangan kepada Ats-Tsauriy, tetapi ambillah (agamamu) dari tempat mereka mengambilnya (yaitu Al-Qur'an dan Hadits).
مِنْ قِلَّةِ فِقْهِ الرَّجُلِ اَنْ يُقَلّدَ دِيْـنَهُ الرّجَالَ.
Diantara tanda sedikitnya pengertian seseorang itu ialah bertaqlid kepada orang lain tentang urusan agama.
لاَ تُقَلّدْ دِيْنَكَ اَحَدًا.
Janganlah engkau bertaqlid terhadap seseorang tentang agamamu.
لاَ تُقَلّدْ دِيْنَكَ اَحَدًا مِنْ هؤُلاَءِ. مَا جَاءَ عَنِ النَّبِيّ وَ اَصْحَابِهِ فَخُذْ بِهِ.
Janganlah kamu bertaqlid tentang agamamu kepada seseorang diantara para ulama, tetapi apa yang datang dari Nabi SAW dan shahabatnya, maka ambillah dia.
اُنْظُرُوْا فِى اَمْرِ دِيْنِكُمْ. فَاِنَّ التَّقْلِـيْدَ لِغَيْرِ اْلمَعْصُوْمِ مَذْمُوْمٌ وَ فِيْهِ عُمْيٌ لِلْبَصِيْرَةِ
Perhatikanlah tentang urusan agama kalian, karena sesungguhnya taqlid kepada orang yang tidak ma'shum itu tercela, dan padanya ada kebutaan hati.
لاَ تُقَلّدْ دِيْـنَكَ الرّجَالَ. فَإِنَّهُمْ لَمْ يَسْلَمُوْا اَنْ يَغْلُطُوْا.
Janganlah kamu bertaqlid kepada orang-orang tentang agamamu, karena sesungguhnya mereka itu tidak terjamin dari kesalahan.
Perkataan Imam Ahmad bin Hanbal di atas jelas melarang bertaqlid, baik bertaqlid kepada madzhab beliau sendiri maupun kepada imam-imam atau ulama-ulama yang lain.
Itulah antara lain ucapan-ucapan dari beliau-beliau para imam itu, dengan jujur melarang siapa saja bertaqlid kepada pendapat/madzhab mereka.
Setelah kita mengetahui apa-apa yang dipesankan atau dikatakan oleh para imam itu, jelaslah bagi kita bahwa orang yang mengatakan; orang Islam itu wajib mengikuti salah satu madzhab dan orang yang tidak bermadzhab itu sesat, adalah nyata-nyata menyalahi Al-Qur'an, menyalahi sabda Nabi SAW. dan menyalahi pula pesan dan perkataan para Imam Rahimahumullooh itu sendiri.
Shahabat-shahabat Nabi dan orang-orang yang lahir sebelum lahirnya para imam madzhab itu juga tidak ada yang bermadzhab, bahkan sama sekali tidak mengenalnya.
Dan Imam Abu Hanifah (80 H - 150 H) tidak bermadzhab Syafi'i, Imam Malik (93 H - 179 H) tidak bermadzhab Syafi'i maupun Hanafi. Begitu pula Imam Syafi'i (150 H - 204 H) tidak bermadzhab Hanafi maupun Maliki, dan Imam Ahmad bin Hanbal (164 H - 241 H) tidak bermadzhab Hanafi, Maliki maupun Syafi'i.
Marilah kita berfikir secara wajar karena Allah selalu mendidik kita supaya berfikir dengan wajar. Firman-Nya :
اَفَلاَ تَعْقِلُوْنَ ؟ البقرة:44 (Tidakkah kamu berakal ?)
اَفَلاَ تَتَفَكَّرُوْنَ ؟ الانعام:50 (Tidakkah kamu berfikir ?)
Dengan penjelasan ini, marilah kita dalam beragama berpegang kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan tidak bertaqlid kepada seseorang.
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ
Bagikan
Larangan Taqlid Buta (3)
4/
5
Oleh
Fatima
