Tampilkan postingan dengan label Shalat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shalat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Februari 2016

Cara I’tidal



 Segala puji hanya bagi Allah, Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, Sahabat dan seluruh pengikutnya yang selalu mengikuti jalan petunjuk-Nya. Amien

Pengertian
I’tidal adalah posisi dimana setelah selesai ruku', kita bangkit dari ruku' dengan mengangkat dua tangan hingga sejajar dengan dua bahu/telinga sambil mengucapkan Sami'alloohu liman hamidah. Kemudian disusul dengan membaca Robbanaa wa lakal-hamdu, atau bacaan i'tidal yang lain, sehingga berdiri tegak dan setiap tulang kembali ke tempatnya.
Bagaimanakah cara I’tidal yang benar ?
‘Ulama berbeda pendapat tentang cara I’tidal, apakah tangan kembali bersedekap sebagaimana sebelum ruku’, atau tangan dilepas sebagaimana sebelum shalat. Dalam hal ini terjadi 2 pendapat.

Apakah Ma'mum harus membaca Ta'awwudz dan Basmalah ketika Imam membaca jahr ?




Segala puji hanya bagi Allah, Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, Sahabat dan seluruh pengikutnya yang selalu mengikuti jalan petunjuk-Nya. Amien

Sebagaiman kita ketahui, bahwa membaca ta'awwudz itu diperintahkan ketika kita akan membaca Al-Qur'an. Firman Allah SWT :
فَاِذَا قَرَأْتَ الْقُرْا?نَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْط?نِ الرَّجِيْمِ. النحل: 98
Apabila kamu akan membaca Al Qur'an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari syaithan yang terkutuk. [QS. An-Nahl : 98]
Jadi yang diperintahkan supaya memohon perlindungan dari godaan syaithan atau membaca ta'awwudz itu adalah orang yang akan membaca Al-Qur'an, sedangkan di dalam shalat, permulaan ayat yang dibaca adalah surat Al-Fatihah. Apabila kita shalat sendirian atau ketika kita menjadi imam, sudah tentu kita membaca ta'awwudz dan basmalah. Tetapi ketika kita menjadi ma'mum sedangkan imam membaca jahr, dan imam memulai bacaan jahrnya dengan "alhamdu lillaahi robbil 'aalamiin", apakah kita harus membaca ta'awwudz dan basmalah sendiri ?

Ma’mum Masbuq



 Segala puji hanya bagi Allah, Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, Sahabat dan seluruh pengikutnya yang selalu mengikuti jalan petunjuk-Nya. Amien 

Beberapa pengertian
Sebelum kita membahas tentang mamum masbuq, ada baiknya kita mengetahui dulu beberapa pengertian yang terkait dengan hal itu, karena mamum masbuq adalah keadaan dimana seseorang itu terlambat dalam mengikuti shalat berjamaah.
Shalat
Secara bahasa berarti doa, tetapi yang dimaksud shalat menurut istilah ialah ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbiratul ihram dan disudahi dengan salam, dan memenuhi beberapa syarat dan rukunnya yang telah ditentukan Allah SWT.
Shalat berjamaah.
Jamaah pengertiannya adalah bersama-sama, yang satu jadi imam dan yang lainmenjadi mamum. Apabila ada dua orang atau lebih shalat bersama-sama, dan salah seorang diantara mereka diikuti oleh yang lainnya, yang demikian itu disebut shalat berjamaah. Orang yang diikuti disebut imam, dan orang yang mengikuti disebut mamum.

Rabu, 23 Desember 2015

Shalat Berjama'ah (5)


 Makmum Masbuq
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا جِئْتُمْ اِلىَ الصَّلاَةِ وَ نَحْنُ سُجُوْدٌ فَاسْجُدُوْا وَلاَ تَعُدُّوْهَا شَيْئًا. وَ مَنْ اَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ اَدْرَكَ الصَّلاَةَ. ابو داود 1: 236، رقم 893
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Apabila kalian datang untuk shalat sedang kami dalam keadaan sujud, maka bersujudlah kalian. Dan janganlah dihitung (satu rekaat). Dan barangsiapa mendapatkan satu rekaat, berarti ia mendapatkan shalat itu". [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 236, no. 893].
عَنْ عَلِيّ بْنِ اَبِى طَالِبٍ وَ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالاَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا اَتَى اَحَدُكُمُ الصَّلاَةَ وَ اْلاِمَامُ عَلَى حَالٍ فَلْيَصْنَعْ كَمَا يَصْنَعُ اْلاِمَامُ. الترمذى 2: 51، رقم 588
Dari Ali bin Abu Thalib dan Mu'adz bin Jabal, mereka berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Apabila seseorang diantara kalian datang untuk shalat sedangkan imam dalam suatu keadaan, maka hendaklah ia berbuat sebagaimana yang diperbuat imam". [HR. At-Tirmidzi juz 2, hal. 51, no. 588]

Shalat Berjama'ah (4)


Letak Berdirinya Imam dan Ma'mum Serta Susunan Shaff 

Hadis-hadis dari Rasulullah SAW mengenai susunan shaff dalam shalat berjamaah diantaranya adalah sbb :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رض قَالَ: نِمْتُ عِنْدَ مَيْمُوْنَةَ وَ النَّبِيُّ ص عِنْدَهَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ، فَتَوَضَّأَ ثُمَّ قَامَ يُصَلّى، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فَأَخَذَنِى فَجَعَلَنِى عَنْ يَمِيْنِهِ. البخارى 1: 171
Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, Aku pernah tidur di rumah (bibiku) Maimunah, sedang pada malam itu Nabi SAW berada di sisinya. Kemudian Nabi SAW berwudlu, lalu shalat malam. Kemudian aku ikut shalat dan berdiri di sebelah kiri beliau, lalu beliau memegangku dan menempatkan aku di sebelah kanan beliau. [HR. Bukhari juz 1, hal. 171]
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: اَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ، فَصَلَّيْتُ خَلْفَهُ، فَأَخَذَ بِيَدِيْ فَجَرَّنِى فَجَعَلَنِى حِذَاءَهُ. احمد 1: 708 رقم 3061
Dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Aku (pernah) datang kepada Nabi SAW pada akhir malam, lalu aku shalat di belakang beliau, maka beliau memegang tanganku, lalu menarikku sehingga menempatkan aku sejajar dengan beliau". [HR. Ahmad juz 1, hal. 708, no. 3061]
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَامَ النَّبِيُّ ص يُصَلّى اْلمَغْرِبَ، فَجِئْتُ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فَنَهَانِى، فَجَعَلَنِى عَنْ يَمِيْنِهِ. ثُمَّ جَاءَ صَاحِبٌ لِى، فَصَفَّنَا خَلْفَهُ، فَصَلَّى بِنَا فِى ثَوْبٍ وَاحِدٍ. مُخَالِفًا بَيْنَ طَرَفَيْهِ. احمد، فى نيل الاوطار 3: 202
Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, "Nabi SAW (pernah) berdiri shalat Maghrib, kemudian aku datang, lalu aku berdiri di sebelah kirinya, maka Nabi SAW mencegahku dan menjadikan aku di sebelah kanannya. Kemudian seorang temanku datang, lalu Nabi SAW mengatur shaff kami di belakangnya, dan beliau shalat bersama kami dengan memakai satu pakaian yang diselempangkan dua ujungnya".. [HR. Ahmad, dalam Nailul Authar juz 3, hal. 202]
وَ فِى رِوَايَةٍ، قَامَ رَسُوْلُ اللهِ ص لِيُصَلّيَ، فَجِئْتُ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ. فَأَخَذَ بِيَدِى فَأَدَارَنِى حَتَّى أَقَامَنِى عَنْ يَمِيْنِهِ، ثُمَّ جَاءَ جَبَّارُ بْنُ صَخْرٍ، فَقَامَ عَنْ يَسَارِ رَسُوْلِ اللهِ ص، فَأَخَذَ بِأَيْدِيْنَا جَمِيْعًا، فَدَفَعَنَا حَتَّى أَقَامَنَا خَلْفَهُ. مسلم و ابو داود، فى نيل الاطار 3: 202
Dan dalam satu riwayat, dikatakan, "Rasulullah SAW berdiri untuk shalat, kemudian aku datang dan berdiri di sebelah kirinya, lalu beliau memegang tanganku, lalu memutarkanku sehingga beliau menempatkan aku di sebelah kanannya. Kemudian Jabbar bin Shakhr datang, dan berdiri di sebelah kiri Rasulullah SAW, lalu beliau memegang tangan kami semua, dan mendorong kami sehingga beliau menempatkan kami di belakangnya". [HR. Muslim dan Abu Dawud, dalam Nailul Authar juz 3, hal. 202]
عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ: اَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا كُنَّا ثَلاَثَةً
 اَنْ يَتَقَدَّمَ اَحَدُنَا. الترمذى، فى نيل الاوطار 3: 202
Dari Samurah bin Jundab, ia berkata, "Rasulullah SAW menyuruh kami, apabila kami tiga orang, hendaklah salah seorang di antara kami, maju (menjadi Imam)". [HR. Tirmidzi, dalam Nailul Authar juz 3, hal. 202]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: وَسّطُوا اْلاِمَامَ وَ سُدُّوا اْلخَلَلَ. ابو داود 1: 182، رقم 681
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Letakkan imam itu di tengah, dan tutuplah celah-celah (shaff)". [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 182, no. 681]
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: صَلَّيْتُ اِلَى جَنْبِ النَّبِيّ ص، وَ عَائِشَةُ مَعَنَا تُصَلّى خَلْفَنَا، وَ اَنَا اِلَى جَنْبِ النَّبِيّ ص اُصَلّىْ مَعَهُ. احمد و النسائى، فى نيل الاوطار 3: 203
Dari Ibnu 'Abbas, ia berkata, "Aku pernah shalat di sebelah Nabi SAW, sedang 'Aisyah shalat bersama kami di belakang kami, dan aku disebelah Nabi SAW shalat bersama beliau". [HR. Ahmad dan Nasai, dalam Nailul Authar juz 3, hal. 203]
عَنْ اَنَسٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص صَلَّى بِهِ وَ بِاُمّهِ اَوْ خَالَتِهِ، قَالَ: فَأَقَامَنِى عَنْ يَمِيْنِهِ، وَ أَقَامَ اْلمَرْأَةَ خَلْفَنَا. احمد و مسلم و ابو داود، فى نيل الاوطار 3: 203
Dari Anas, bahwa Nabi SAW pernah shalat bersamanya, dan bersama ibunya atau bibinya. Anas berkata, "Maka Nabi SAW menempatkan aku di sebelah kanannya, dan menempatkan wanita itu dibelakang kami". [HR. Ahmad, Muslim dan Abu Dawud, dalam Nailul Authar juz 3, hal. 203]

Keterangan :
1. Dari hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa letak makmum, jika ia seorang diri adalah di sebelah kanan imam.
     Adapun yang dimaksud "disebelah kanan imam" ini sejajar atau mundur sedikit dari imamnya, di sini ada dua pendapat :
a.  Berpendapat sebagaimana dhahir hadits tersebut, yaitu sejajar dengan imam. Karena arti  حِذَاءَهُ  itu, "sejajar dengan beliau", عَنْ يَمِيْنِهِ  itu adalah "disebelah kanannya", dan اِلَى جَنْبِ النَّبِيّ itu adalah "disebelah/disamping Nabi"
b.  Berpendapat makmum mundur sedikit dari imam (tidak sejajar). Karena Imam itu sebagai ikutan, maka sudah semestinya imam itu ada di depan. Dan walaupun disitu disebutkan makmum itu di sebelah kanannya atau di sampingnya, tetapi yang dimaksud adalah di sebelah kanan atau di samping imam agak ke belakang.
2.  Dan dari hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa apabila makmumnya seorang laki-laki dan seorang wanita berjama'ah bersama imam, maka letak laki-laki adalah disebelah kanan imam, dan letak wanita adalah di belakang mereka. Wanita tidak boleh satu shaff bersama laki-laki.
     Tetapi apabila jamaah itu terdiri tiga orang laki-laki atau lebih, maka imamnya berada di depan.
Letak Berdirinya Makmum Anak-anak dan Wanita
عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: لِيَلِنِى مِنْكُمْ اُولُوا اْلاَحْلاَمِ وَ النُّهَى، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلَوْنَهُمْ، وَ اِيَّاكُمْ وَ هَيْشَاتِ اْلاَسْوَاقِ. احمد و مسلم و ابو داود، و الترمذى، فى نيل الاوطار 3: 205
Dari Ibnu Mas'ud, dari Nabi SAW beliau bersabda, "Hendaklah orang-orang yang sudah baligh dan pandai di antara kamu, di dekatku; kemudian orang-orang yang mengiringi mereka; kemudian orang-orang yang mengiringi mereka; dan hindarilah hiruk-pikuk (seperti) pasar". [HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi, dalam Nailul Authar juz 3, hal. 205]
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ غُنْمٍ عَنْ اَبِى مَالِكِ اْلاَشْعَرِيّ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص اَنَّهُ كَانَ يُسَوّيْ بَيْنَ اْلاَرْبَعِ رَكَعَاتٍ فِى اْلقِرَاءَةِ وَ اْلقِيَامِ. وَ يَجْعَلُ الرَّكْعَةَ اْلاُوْلَى هِيَ اَطْوَلُهُنَّ لِكَىْ يَثُوْبَ النَّاسُ. وَ يَجْعَلُ الرّجَالَ قُدَّامَ اْلغِلْمَانِ، وَ اْلغِلْمَانَ خَلْفَهُمْ، وَ النّسَاءَ خَلْفَ اْلغِلْمَانِ. احمد، فى نيل الاوطار 3: 207
Dari Abdurrahman bin Ghunmin dari Abu Malik Al-Asy'ariy, dari Rasulullah SAW, sesungguhnya beliau (pernah) mempersamakan antara empat rakaat dalam bacaan dan berdiri; dan menjadikan rakaat pertama adalah yang lebih panjang, agar orang-orang bisa menyusul (mengikuti jama'ah). Dan beliau menempatkan orang-orang dewasa di depan anak-anak, dan anak-anak di belakang mereka; dan para wanita di belakang anak-anak. [HR. Ahmad, dalam Nailul Authar juz 3, hal. 207]
عَنْ اَنَسٍ اَنَّ جَدَّتَهُ مُلَيْكَةَ دَعَتْ رَسُوْلَ اللهِ ص لِطَعَامٍ صَنَعَتْهُ، فَاَكَلَ، ثُمَّ قَالَ: قُوْمُوْا فَلاُصَلّ لَكُمْ، فَقُمْتُ اِلىَ حَصِيْرٍ لَنَا قَدْ سُوّدَ مِنْ طُوْلِ مَا لَبِسَ، فَنَضَحْتُهُ بِمَاءٍ، فَقَامَ عَلَـيْهِ رَسُوْلُ اللهِ ص، فَقُمْتُ اَنَا وَ اْليَتِيْمُ وَرَاءَهُ، وَ قَامَتِ اْلعَجُوْزُ مِنْ وَرَائِنَا فَصَلَّى لَنَا رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ انْصَرَفَ. الجماعة الا ابن ماجه، فى نيل الاوطار 3: 207
Dari Anas, bahwa neneknya, yaitu Mulaikah, mengundang Rasulullah SAW untuk (makan) makanan yang dibuatnya, lalu beliau SAW makan. Kemudian setelah (selesai) makan beliau bersabda, "Berdirilah kalian, karena aku (akan) shalat bersama kalian". Lalu aku berdiri (menuju)  ke sebuah tikar milik kami, yang sudah menjadi hitam karena lamanya terpakai, lalu aku perciki dengan air. Kemudian Rasulullah SAW berdiri di atas tikar itu, dan akupun berdiri bersama anak yatim di belakangnya; dan wanita tua tersebut berdiri dibelakang kami, kemudian Rasulullah shalat bersama kami dua raka'at, lalu salam". [HR. Jama'ah, kecuali Ibnu Majah, dalam Nailul Authar juz 3, hal. 207]
عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: صَلَّيْتُ اَنَا وَ يَتِيْمٌ فِى بَيْتِنَا خَلْفَ النَّبِيّ ص وَ اُمّى اُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا. البخارى 1: 177
Dari Anas bin Malik, ia berkata, "Aku bersama anak yatim di rumah kami pernah shalat di belakang Nabi SAW, dan ibuku, yaitu Ummu Sulaim, di belakang kami". [HR. Bukhari juz 1, hal. 177]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: خَيْرُ صُفُوْفِ الرّجَالِ اَوَّلُهَا وَ شَرُّهَا آخِرُهَا، وَ خَيْرُ صُفُوْفِ النّسَاءِ آخِرُهَا وَ شَرُّهَا اَوَّلُهَا. الجماعة الا البخارى، فى نيل الاوطار 3: 208
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik shaff bagi laki-laki adalah di depan, dan seburuk-buruknya adalah di belakang; dan sebaik-baik shaff bagi wanita adalah di belakang, dan seburuk-buruknya adalah di depan". [HR. Jama'ah, kecuali Bukhari, dalam Nailul Authar juz 3, hal. 208]
Keterangan :
1. Dari hadits-hadits di atas bisa difahami bahwa susunan shaff di dalam shalat jamaah itu sebagai berikut : Imam berada di depan makmum (tengah-tengah; tidak terlalu ke kanan dan tidak terlalu ke kiri). Setelah itu orang-orang yang pandai atau orang dewasa berada dekat imam, kemudian baru anak-anak laki-laki. Kemudian setelah itu baru shaff wanita.
2. Dan dalam shalat berjama'ah yang diikuti oleh laki-laki dan wanita itu sebaik-baik shaff bagi laki-laki adalah yang pertama, dan seburuk-buruk shaff bagi mereka adalah yang paling belakang.
     Sedang sebaik-baik shaff bagi wanita adalah shaff yang belakang dan seburuk-buruknya adalah yang terdepan. Tetapi bila jamaah  shalat itu terdiri dari para wanita seluruhnya maka berlaku sebagaimana laki-laki yaitu sebaik-baik shaff adalah yang paling depan dan seburuk-buruk shaff adalah yang paling belakang.
Wanita boleh Mengimami Shalat
عَنْ اُمّ وَرَقَةَ وَ كَانَتْ تَؤُمُّ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص اَذِنَ لَهَا اَنْ تَؤُمَّ اَهْلَ دَارِهَا. الدارقطنى 1: 403
Dari Ummu Waraqah (dahulu ia mengimami shalat), bahwasanya Rasulullah SAW pernah memberi idzin kepadanya untuk mengimami shalat keluarganya. [HR. Daruquthni juz 1, hal. 403]
عَنْ عَائِشَةَ رض اَنَّهَا كَانَتْ تَؤُمُّ النّسَاءَ فَتَقُوْمُ مَعَهُنَّ فِى الصَّفّ. ابن ابى شيبة و الحاكم، فى عون المعبود 2: 212
Dari 'Aisyah RA bahwasanya ia pernah mengimami para wanita dan ia berdiri di dalam shaff. [HR. Ibnu Abi Syaibah dan Al-Hakim, dalam Aunul Mabud juz 2, hal. 212]
عَنْ اُمّ سَلَمَةَ اَنَّهَا اَمَّتْهُنَّ، فَقَامَتْ وَسَطًا. الشافعى و ابن ابى شيبة، فى عون المعبود 2: 212
Dari Ummu Salamah bahwasanya ia pernah mengimami mereka (para wanita), maka ia berdiri di tengah-tengahnya. [HR. Asy-Syafi'i dan Ibnu Abi Syaibah, dalam Aunul Mabud juz 2, hal. 212]
عَنْ عَائِشَةَ رض اَنَّهَا اَمَّتْ نِسَاءً فَقَامَتْ وَسَطَهُنَّ. عبد الرزاق، فى عون المعبود 2: 212
Dari 'Aisyah RA bahwasanya ia pernah mengimami para wanita, maka ia berdiri di tengah-tengah. [HR. 'Abdur Rozaq, dalam Aunul Mabud juz 2, hal. 212]
Keterangan :
Dari riwayat-riwayat tersebut bisa kita ambil pengertian bahwa wanita boleh mengimami shalat bagi jama'ah wanita. Adapun tentang letaknya/berdirinya imam tersebut ada 3 pendapat :
1.  Imam wanita berada di tengah-tengah shaff pertama sebagaimana dhohir riwayat diatas.
2.  Imam wanita berada di shaff pertama, tetapi maju sedikit dari shaff tersebut.
3.  Imam wanita berada di depan para jama'ah shalat sebagaimana aturan shaff yang berlaku pada jama'ah laki-laki. Pendapat ini beralasan karena tidak adanya perintah yang jelas dan tegas dari Nabi SAW tentang letak berdirinya imam wanita, sedangkan riwayat-riwayat di atas kalaupun betul, itupun hanya perbuatan shahabat yang tidak didukung dengan perintah dari Nabi SAW. Oleh sebab itu mereka mengembalikan tentang berdirinya imam bagi wanita itu pada keumumam aturan shalat berjama'ah.

Shalat Berjama'ah (3)


Hal-hal yang dilakukan oleh Imam di dalam shalat
1.  Imam supaya menyaringkan Takbiratul Ihram, agar makmum mengetahui bahwa imam telah memulai shalat.
2.  Menyaringkan/menjahrkan bacaan Al-Fatihah dan surat/ayat Al-Qur'an pada shalat Maghrib, 'Isyak dan Shubuh, serta shalat-shalat berjama'ah yang dituntunkan membaca jahr yang lain.
3.  Menyaringkan Takbir-takbir serta bacaan I'tidal, dan Salam sehingga makmum mengetahui adanya perubahan-perubahan dari rukun ke rukun lainnya.
4.  Menjaga kesempurnaan shalat tersebut, baik bacaannya yang teratur, tidak tergesa-gesa, tuma'ninahnya, dan terutama kekhusyu'annya yang merupakan jiwa dari shalat itu, ini semua mengingat bahwa imam menjadi pemimpin dan yang bertanggung jawab atas makmumnya.

Shalat Berjama'ah (2)


Tata Tertib Shalat Berjama'ah
Bagi seorang Imam :
1.  Yang lebih mengerti serta lebih fashih tentang Al-Qur'an,
2.  Yang lebih memahami Sunnah Rasul,
3.  Yang lebih dahulu hijrah (baik hijrah dari Makkah ke Madinah sebagaimana para shahabat maupun hijrah dari segala yang buruk kepada yang baik),
4.  Yang lebih tua atau yang lebih dahulu Islamnya,
5.  Yang lebih dicintai, dengan kecintaan yang dibenarkan oleh agama.

Shalat Berjama'ah (1)


Pengertian shalat berjama'ah
Shalat berjama'ah ialah shalat yang dilakukan oleh orang banyak secara bersama, paling sedikit dua orang, salah seorang diantara mereka yang lebih fasih bacaannya dan lebih mengerti tentang hukum Islam (Al-Qur'an dan Hadits) dipilih menjadi imam, dan yang lain menjadi makmum. Shalat berjama'ah ini hukumnya sunnah muakkad.

Shalat 'Ied


Adab mengerjakan shalat 'Ied dan sunnah-sunnahnya
1. Mandi dahulu
عَنِ ابْنِ السَّبَّاقِ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: يَا مَعْشَرَ اْلمُسْلِمِيْنَ، اِنَّ هذَا (يَوْمَ اْلجُمُعَةِ) يَوْمٌ جَعَلَهُ اللهُ عِيْدًا فَاغْسِلُوْا. مالك فى الموطأ 1: 65، رقم: 113
Dari Ibnus Sabbaaq, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Hai kaum Muslimin, hari (Jum'ah) ini adalah satu hari yang Allah jadikan hari raya. Karena itu hendaklah kamu mandi". [HR. Malik, dalam Al-Muwaththa  juz 1, hal. 65, no. 113]

Shalat Sunnah (8)


Shalat Sunnah Lail ialah : Shalat-shalat Sunnah yang dikerjakan pada malam hari selain Ba'diyah 'Isya'.
Adapun waktunya ialah : Sehabis shalat 'Isya' hingga akhir waktu 'Isya' sebelum masuk waktu Shubuh. Dan shalat Lail itu boleh dikerjakan sebelum maupun sesudah tidur.
Macam-macamnya :
A. Shalat Sunnah Tarawih.                  C. Shalat Sunnah Witir.
B. Shalat Sunnah Tahajjud.                D. Shalat Sunnah Iftitah.

A. Shalat Tarawih

Tarawih artinya relax, santai, istirahat.
Ulama mengistilahkan Shalat Sunnah ini dengan Shalat Tarawih, karena melihat riwayat yang menjelaskan tentang bagaimana cara Nabi SAW melakukannya. Yaitu dengan perlahan-lahan/relax/santai serta diselingi dengan istirahat setiap habis salam, sebagaimana riwayat dibawah ini:
Dari 'Aisyah RA, katanya :
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُصَلّى اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِى اللَّيْلِ ثُمَّ يَتَرَوَّحُ فَاَطَالَ حَتَّى رَحِمْتُهُ. البيهقى 2: 497
Adalah Rasulullah SAW shalat 4 rekaat dimalam hari. Kemudian beliau beristirahat/bertarawih lama sekali, sehingga aku merasa kasihan kepadanya. [HR. Baihaqi juz 2, hal. 497]
Waktu, Bilangan dan Cara Pelaksanaan
1. Waktunya.
Setiap malam pada bulan Ramadlan, boleh dikerjakan diawwal malam atau di pertengahan maupun di akhirnya, baik sebelum tidur maupun sesudah tidur. Tegasnya, shalat tarawih adalah shalat malam di bulan Ramadlan.
عَنْ اَبىْ ذَر قَالَ: صُمْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص رَمَصَانَ. فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَتِ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتِ اْلخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ. ابو داود 2: 50
Dari Abu Dzarr, ia berkata : Kami berpuasa Ramadlan bersama Rasulullah SAW. Beliau tidak shalat (malam) bersama kami hingga tinggal tujuh hari dari bulan itu. Lalu beliau shalat bersama kami hingga lewat sepertiga malam, kemudian beliau tidak shalat malam bersama kami pada malam yang keenam. Tetapi beliau shalat malam bersama kami pada malam yang ke lima hingga lewat tengah malam. [HSR. Abu Dawud juz 2, hal. 50]
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ عَبْدِ اْلقَارِيّ اَنَّهُ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ ابْنِ اْلخَطَّابِ رض لَيْلَةً فِى رَمَضَانَ اِلىَ اْلمَسْجِدِ فَاِذَا النَّاسُ اَوْزَاعٌ مُتَفَرّقُوْنَ يُصَلّى الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلّى الرَّجُلُ فَيُصَلّى بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ. فَقَالَ عُمَرُ: اِنىّ اَرَى لَوْ جَمَعْتُ هؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ اَمْثَلَ. ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى اُبَيّ بْنِ كَعْبٍ. ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً اُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّوْنَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ: نِعْمَ اْلبِدْعَةُ هذِهِ وَالَّتِى يَنَامُوْنَ عَنْهَا اَفْضَلُ مِنَ الَّتِى يَقُوْمُوْنَ يُرِيْدُ اخِرَ اللَّيْلِ. وَكَانَ النَّاسُ يَقُوْمُوْنَ اَوَّلَهُ. البخارى 2: 252
Dari Abdurrahman bin Abdul Qariyyi, bahwasanya ia berkata, "Saya pernah keluar ke masjid bersama Umar bin Khaththab RA. pada suatu malam di bulan Ramadlan, Tiba-tiba kami dapati orang-orang berkelompok-kelompok dan terpisah-pisah, ada yang shalat sendirian dan ada yang shalat dengan diikuti beberapa orang. Maka Umar berkata, "Saya berpendapat lebih baik mereka ini saya kumpulkan dengan diimami oleh seorang imam". Kemudian Umar ber'azam dan mengumpulkan mereka itu dengan diimami oleh Ubay bin Ka'ab. Kemudian saya keluar lagi bersama Umar pada malam yang lain, sedang orang-orang shalat dengan bermakmum kepada imam mereka. Umar berkata, "Sebaik-baik bid'ah adalah ini". Dan shalat yang mereka kerjakan pada akhir malam adalah lebih utama dari pada yang mereka kerjakan di awwal malam. Sedangkan orang-orang biasa mengerjakannya di awwal malam. [HR. Bukhari juz 2 : 252].
2. Bilangan Raka'atnya
Shalat Sunnah Tarawih ini, bilangan raka'at yang biasa dikerjakan oleh Nabi SAW adalah sebelas raka'at beserta witirnya. Dan sebanyak-banyaknya tak terbatas, berapa saja seseorang mampu melaksanakan-nya hingga habis waktu shalat sunnah tersebut, yaitu masuk waktu Shubuh.
عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُصَلّى مَا بَيْنَ اَنْ يَفْرَغَ مِنْ صَلاَةِ اْلعِشَاءِ اِلىَ اْلفَجْرِ اِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلّمُ بَيْنَ كُلّ رَكْعَتَيْنِ وَ يُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ. الجماعة الا الترمذى
Dari 'Aisyah RA, ia berkata, "Rasulullah SAW shalat antara beliau selesai dari shalat 'Isyak hingga fajar, 11 rekaat. Beliau salam antara tiap-tiap 2 rekaat, lalu berwitir 1 rekaat". [HR. Al-Jama'ah selain Tirmidzi].
قَالَتْ عَائِشَةُ. كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُصَلّى اَرْبَعًا فَلاَ تَسْئَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلّى اَرْبَعًا فَلاَ تَسْئَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلّى ثَلاَثًا. البخارى و مسلم
Telah berkata 'Aisyah, "Adalah Rasulullah SAW pernah shalat 4 raka'at, jangan engkau tanya bagusnya dan panjangnya, kemudian beliau shalat 4 raka'at, jangan engkau tanya bagusnya dan panjangnya, kemudian beliau shalat (witir) 3 reka'at". [HSR. Bukhari dan Muslim]
Keterangan :
Maksud hadits tersebut, Nabi SAW shalat 2 raka'at salam, 2 raka'at salam lalu istirahat. Dilanjutkan lagi 2 raka'at salam, 2 raka'at salam lalu istirahat. Kemudian shalat witir 3 reka'at.
'Aisyah RA berkata :
اِنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص مَاكَانَ يَزِيْدُ فِى رَمَضَانَ وَ لاَ غَيْرِهِ عَلَى اِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً. البخارى و مسلم
Bahwasanya Rasulullah SAW tidak melebihkan di bulan Ramadlan dan di luar bulan Ramadlan atas sebelas raka'at. [HR. Bukhari dan Muslim]
Keterangan :
Hadits ini bukan merupakan batas dari Nabi SAW, tetapi hanya menunjukkan bahwa biasanya Nabi SAW shalat sebelas raka'at.
عَنِ ابْنِ عُمَرَرض قَالَ: قَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ صَلاَةُ اللَّيْلِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص. صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى. فَاِذَا خَافَ اَحَدُكُمُ الصُّبْحَ فَلْيُوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى. الجماعة
Ibnu 'Umar RA. berkata : Seorang lelaki berdiri, lalu bertanya kepada Rasulullah SAW, "Ya Rasulullah, bagaimanakah shalat malam itu ?". Rasulullah SAW menjawab, "Shalat malam itu 2 raka'at 2 raka'at. Maka apabila seseorang diantara kamu khawatir masuk Shubuh hendaklah berwitir dengan 1 raka'at. Yang seraka'at itu mewitirkan untuk shalat yang telah dikerjakan". [Diriwayatkan Al-Jama'ah]
3. Cara Pelaksanaan
  • . Boleh dengan Jahr (suara nyaring) maupun Sirr (suara lembut) :
سُئِلَتْ عَائِشَةُ: كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَةُ النَّبِيّ ص بِاللَّيْلِ؟ فَقَالَتْ: كُلُّ ذلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ رُبَمَا اَسَرَّ وَ رُبَمَا جَهَرَ. احمد و ابو داود و الترمذى
Telah ditanya 'Aisyah RA, "Bagaimana bacaan Nabi SAW pada waktu (shalat) malam ?". Jawabnya, "Semuanya itu dikerjakan oleh Rasulullah SAW terkadang beliau membaca sirr (pelan) dan terkadang beliau membaca jahr (nyaring)".  [HSR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi]
  • . Boleh dikerjakan dengan berjama'ah maupun munfarid (sendirian)
قَالَتْ عَائِشَةُ: اِنَّ النَّبِيَّ ص صَلَّى فِى اْلمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ نَاسٌ. ثُمَّ صَلَّى الثَّانِيَةَ فَكَثُرَ النَّاسُ. ثُمَّ اجْتَمَعُوْا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ اَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ اِلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ ص فَلَمَّا اَصْبَحَ قَالَ:رَأَيْتُ الَّذِى صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِى مِنَ اْلخُرُوْجِ اِلَيْكُمْ اِلاَّ اَ نّى خَشِيْتُ اَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ ... وَ ذلِكَ فِى رَمَضَانَ. البخارى و مسلم
Telah berkata 'Aisyah, bahwasanya Nabi SAW pernah shalat malam dimasjid maka orang-orangpun turut shalat bersama beliau, dan beliau shalat pula pada malam yang kedua, maka bertambah banyak orang mengikutinya. Kemudian malam ketiganya atau ke empatnya mereka telah berkumpul, tetapi beliau tidak datang. Keesokan harinya beliau berkata, "Saya mengetahui apa yang kalian kerjakan semalam, saya tidak berhalangan untuk datang kepadamu, hanya saya takut jangan-jangan shalat itu kau anggap wajib". Kata 'Aisyah, "Kejadian tersebut pada bulan Ramadlan". [HSR. Bukhari dan Muslim]

B. Shalat Sunnah Tahajjud

Shalat Sunnah Tahajjud adalah : Shalat malam yang dikerjakan di luar Ramadlan.
Nama Tahajjud diambil dari firman Allah ayat 79 surat Al-Israa' :
وَ مِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِه نَا فِلَةً لَّكَ. الاسراء: 79
Dan pada sebagian malam bershalat Tahajjudlah kamu sebagai suatu tambahan bagimu. [QS. Al-Israa' : 79]
Jadi, shalat sunnah tarawih dan shalat sunnah tahajjud adalah sama. Kalau dikerjakan di bulan Ramadlan disebut shalat Tarawih, sedangkan jika dikerjakan di luar Ramadlan disebut shalat Tahajjud.

C. Shalat Sunnah Witir

Shalat sunnah witir ialah shalat sunnah lail yang dikerjakan dengan bilangan rakaat yang ganjil (witir = ganjil).
عَنْ عَلِيّ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص اَوْتِرُوْا يَا اَهْلَ اْلقُرْانِ فَاِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ اْلوِتْرَ. الخمسة وصححه ابن خزيمة
Dari 'Ali RA, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW, "Berwitirlah kamu hai ahli Qur'an karena sesungguhnya Allah itu witir/tunggal, Ia suka kepada (shalat) witir". [Diriwayatkan oleh Khamsah dan disahkan oleh Ibnu Khuzaimah]
Waktunya :
Pada setiap malam, baik di dalam maupun diluar Ramadlan, boleh dikerjakan di awwal, pertengahan, ataupun diakhir malam, baik sebelum maupun sesudah tidur, kesemuanya itu pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW :
عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: مِنْ كُلّ اللَّيْلِ قَدْ اَوْتَرَ رَسُوْلُ اللهِ ص مِنْ اَوَّلِ اللَّيْلِ وَ اَوْسَطِهِ وَ اخِرِهِ فَانْتَهَى وِتْرُهُ اِلىَ السَّحَرِ. الجماعة
Dari 'Aisyah RA, ia berkata, "Dalam seluruh (bagian) malam Rasulullah SAW pernah mengerjakan witir, di permulaan malam, dipertengahannya, dan di akhirnya, hingga witirnya selesai pada waktu sahur". [HR. Al Jama'ah]
عَنْ جَابِرٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ خَافَ اَنْ لاَ يَقُوْمَ مِنْ اخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوْتِرْ اَوَّلَهُ وَ مَنْ طَمِعَ اَنْ يَقُوْمَ اخِرَهُ فَلْيُوْتِرْ اخِرَ اللَّيْلِ. فَاِنَّ صَلاَةَ اخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُوْدَةٌ وَ ذلِكَ اَفْضَلُ. مسلم
Dari Jabir RA, ia berkata, telah bersabda Rasulullah SAW, "Barangsiapa khawatir tidak akan bangun pada akhir malam, maka bolehlah berwitir pada awwal malam. Dan barangsiapa berkeyakinan mampu bangun di akhir malam, maka hendaklah mengerjakan witir pada saat itu, karena shalat di akhir malam itu disaksikan dan yang demikian itu lebih utama". [HR. Muslim].
Bilangan Raka'at serta Cara Pelaksanaannya
a. Satu rakaat, berdasar sabda Nabi SAW :
صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى. فَاِذَا خَافَ اَحَدُكُمُ الصُّبْحَ فَلْيُوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى. البخارى و مسلم
"Shalat malam itu dua (rakaat) dua (rakaat), maka apabila seseorang di antara kalian takut (masuk waktu) Shubuh hendaklah ia witir 1 rakaat. Yang serakaat itu mewitirkan shalat yang telah ia kerjakan". [HSR. Bukhari dan Muslim]
b. Tiga Rakaat, Bila melaksanakan 3 rakaat, maka harus dengan satu tasyahud di rakaat yang akhir, lalu salam, sebagaimana riwayat di bawah ini :
قَالَتْ عَائِشَةُ رض :كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُوْتِرُ بِثَلاَثٍ وَ لاَ يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ. احمد و النسائى، و لفظه: كَانَ لاَ يُسَلّمُ فِى رَكْعَتَيِ اْلوِتْرِ. فى نيل الاوطار 3: 40
'Aisyah RA berkata, "Rasulullah SAW pernah berwitir dengan 3 raka'at, tidak mengadakan pemisahan antaranya (mengerjakannya dengan sekali salam)". [HR. Ahmad dan An-Nasai] Adapun dalam lafadh Nasai : Adalah beliau tidak salam pada dua rekaat dalam shalat witir tersebut. [Nailul Authar juz 3 hal. 40].
Dan tidak diperkenankan shalat witir yang 3 itu dengan 2 raka'at salam, kemudian disambung dengan 1 rakaat lalu salam. Hal ini menyalahi riwayat 'Aisyah di atas dan juga menyalahi arti witir itu sendiri, karena witir itu artinya ganjil, sedang 2 itu genap, jadi tidak dapat dikatakan witir. Dan juga kita tidak diperkenankan shalat 3 raka'at tersebut dengan 2 tasyahud 1 salam. Sebab ini menyerupai Maghrib, yang demikian ini dilarang oleh Nabi SAW sebagaimana hadits di bawah ini. Sabda Nabi SAW :
لاَ تُوْتِرُوْا بِثَلاَثٍ. اَوْتِرُوْا بِخَمْسٍ اَوْ بِسَبْعٍ وَ لاَ تُشَبّهُوْا بِصَلاَةِ اْلمَغْرِبِ. الدارقطنى 2: 24
Jangan kamu shalat witir 3 rekaat, (tetapi) shalatlah witir 5 atau 7, dan janganlah kamu menyerupai dengan shalat Maghrib". [HR. Daruquthni juz 2, hal, 24].
Keterangan :
Dalam hadits ini, Rasulullah SAW melarang kita shalat witir 3 rekaat dan memerintahkan untuk shalat dengan 5 rekaat atau 7 rekaat. Sedang hadits-hadits lain menerangkan bahwa Rasulullah SAW sendiri mengerjakan shalat witir 3 rekaat. Maka dari kedua macam hadits tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa : "Yang dilarang mengerjakan shalat witir 3 rekaat itu adalah shalat witir yang menyerupai shalat Maghrib, sedang shalat witir 3 rekaat yang tidak serupa dengan shalat Maghrib tidak dilarang, bahkan dikerjakan oleh Rasulullah SAW sendiri".
Adapun bentuk keserupaan itu ialah : Dengan 2 tasyahud satu salam. Maka supaya tidak menyerupai shalat Maghrib hendaklah shalat witir 3 rekaat tersebut dikerjakan dengan 3 rekaat sekaligus dengan satu tasyahud di akhir rakaat dan satu salam.
c. 5 rekaat dengan satu tasyahud di rakaat yang terakhir kemudian salam. Berdasar riwayat sebagai berikut :
قَالَتْ عَائِشَةُ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُصَلّى مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوْتِرُ مِنْ ذلِكَ بِخَمْسٍ وَ لاَ يَجْلِسُ فِى شَيْءٍ مِنْهُنَّ اِلاَّ فِى اخِرِهِنَّ. البخارى و مسلم
Aisyah RA berkata, "Rasulullah SAW shalat di malam hari 13 rekaat, dari 13 rekaat itu beliau shalat witir 5 rekaat. Beliau tidak duduk (attahiyat) pada sesuatu rekaat dari yang 5 ini, melainkan pada akhirnya". [HR. Bukhari dan Muslim].
d.  7 rekaat dengan 2 tasyahud di rekaat 6 dan 7 lalu salam.
Berdasar riwayat sebagai berikut :
عَنْ عَائِشَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص لَمَّا كَبُرَ وَضَعُفَ اَوْتَرَ بِسَبْعِ رَكَعَاتٍ لاَ يَقْعُدُ اِلاَّ فِى السَّادِسَةِ ثُمَّ يَنْهَضُ وَ لاَ يُسَلّمُ فَيُصَلّى السَّابِعَةَ ثُمَّ يُسَلّمُ تَسْلِيْمَةً. ابن حزم
Dari Aisyah RA, bahwasanya Rasulullah SAW setelah lanjut usia dan lemah badannya, beliau berwitir dengan 7 rekaat dan tidak duduk kecuali pada rekaat yang ke 6, kemudian berdiri tanpa salam lalu menyelesaikan rekaat yang ke 7 kemudian salam dengan satu kali salam. [HR. Ibnu Hazm].
e. 9 rekaat dengan 2 tasyahud di rekaat yang ke 8 dan ke 9 setelah itu salam.
Berdasar riwayat sebagai berikut :
قَالَ سَعِيْدُ بْنُ هِشَامٍ لِعَائِشَةَ. اَنْبِئِيْنِى عَنْ وِتْرِ رَسُوْلِ اللهِ ص فَقَالَتْ: كُنَّا نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَ طَهُوْرَهُ فَيَبْعَثُهُ اللهُ مَتَى شَاءَ لَنْ اَبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَيَتَسَوَّكُ وَ يَتَوَضَّأُ وَ يُصَلّى تِسْعَ رَكَعَاتٍ لاَ يَجْلِسُ فِيْهَا اِلاَّ فِى الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ ثُمَّ يَنْهَضُ وَ لاَ يُسَلّمُ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلّى التَّاسِعَةَ ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ ثُمَّ يُسَلّمُ تَسْلِيْمًا يُسْمِعُنَا ثُمَّ يُصَلّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلّمُ وَ هُوَ قَاعِدٌ فَتِلْكَ اِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَا بُنَيَّ. احمد و مسلم
Said bin Hisyam telah bertanya kepada 'Aisyah RA, "(Ya Aisyah), beritahukanlah kepadaku tentang shalat witir Rasulullah SAW". Jawab 'Aisyah, "Kami biasa menyediakan penggosok gigi dan air wudlu bagi Rasulullah SAW, lalu beliau bangun malam pada waktu yang dikehendaki Allah, bukan sebab saya bangunkan. Kemudian beliau menggosok gigi dan berwudlu lalu shalat (witir) sembilan rekaat dan beliau tidak duduk (attahiyat) melainkan pada rekaat yang ke delapan, lalu beliau menyebut, memuji dan berdoa kepada Allah. Kemudian beliau bangun dengan tidak mengucap salam dan berdiri shalat (rekaat) yang ke sembilan, kemudian beliau duduk (attahiyat) menyebut, memuji dan berdoa kepada Allah, kemudian beliau mengucap salam sehingga terdengar oleh kami. Setelah itu beliau shalat 2 rekaat dengan duduk. Yang demikian itu jadi 11 rekaat hai anakku". [HSR. Ahmad dan Muslim].
Dan kita dilarang mengerjakan 2 kali shalat witir pada satu malam
عَنْ طَلْقِ بْنِ عَلِيّ رض قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ص يَقُوْلُ: لاَ وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ. احمد و النسائى و الترمذى و صححه ابن حبان
Dari Thalq bin Ali, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada dua witir pada satu malam". [HR. Ahmad, Nasai, Tirmidzi dan dishahkan oleh Ibnu Hibban].
f. Bacaan sesudah shalat witir.
Menurut riwayat Nasai, Rasulullah SAW setelah shalat witir, beliau membaca Subhaanal Malikil Qudduus 3 kali.
عَنْ قَتَادَةَ قَالَ: سَمِعْتُ عَزْرَةَ يُحَدّثُ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ اَبْزَى عَنْ اَبِيْهِ، اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص كَانَ يُوْتِرُ بِسَبّحِ اسْمَ رَبّكَ اْلاَعْلى، وَ قُلْ ياَيُّهَا اْلكَافِرُوْنَ، وَ قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ. فَاِذَا فَرَغَ قَالَ: سُبْحَانَ اْلمَلِكِ اْلقُدُّوْسِ ثَلاَثًا. النسائى
Dari Qatadah, ia berkata : Saya pernah mendengar Azrah menyampaikan hadits dari Said bin Abdur Rahman bin Abza dari ayahnya, ia berkata, Biasanya Rasulullah SAW dalam shalat witir membaca surat Al-Alaa, Al-Kaafiruun dan Al-Ikhlash. Setelah selesai beliau mengucapkan Subhaanal Malikil Qudduus (sebanyak) 3 kali. [HR. Nasai]
عَنْ قَتَادَةَ عَنْ زُرَارَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ اَبْزَى عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص، كَانَ يُوْتِرُ بِسَبّحِ اسْمَ رَبّكَ اْلاَعْلى، وَ قُلْ ياَيُّهَا اْلكَافِرُوْنَ، وَ قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ. فَاِذَا فَرَغَ قَالَ: سُبْحَانَ اْلمَلِكِ اْلقُدُّوْسِ، ثَلاَثًا وَ يَمُدُّ فِى الثَّالِثَةِ. النسائى
Dari Qatadah dari Zurarah dari Abdur Rahman bin Abza dari Rasulullah SAW, biasanya beliau SAW di dalam shalat witir membaca surat Al-Alaa, Al-Kaafirun dan Al-Ikhlash. Setelah selesai lalu beliau mengucapkan, Subhaanal Malikil Qudduus 3 kali, dan beliau memanjangkan pada bacaan yang ketiga. [HR. Nasai]
Dan menurut riwayat Thabrani, setelah bacaan tersebut ada tambahan Rabbul malaaikati war ruuh.

D. Shalat Iftitah.

Shalat Iftitah adalah shalat sunnah dua rekaat yang ringan untuk mengawali shalat lail.
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا قَامَ اَحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ فَلْيَفْتَحْ صَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ. احمد و مسلم
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Apabila seseorang diantara kamu bangun pada malam hari, maka hendaklah ia membuka shalatnya dengan dua rekaat yang ringan. [HR. Ahmad dan Muslim].
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا قَامَ مِنَ
اللَّيْلِ اِفْتَتَحَ صَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ. احمد و مسلم
Dari 'Aisyah RA, ia berkata, "Adalah Rasulullah SAW apabila bangun di malam hari beliau membuka shalat malamnya dengan dua rekaat yang ringan". [HR. Ahmad dan Muslim].