
بِسْــــــــــــــــمِﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Adapun masalah adat dan mu’amalat, sumbernya bukan dari syari’, tetapi justru manusia itu sendiri yang menimbulkan dan mengadakan. Dalam hal ini syari’ hanya membetulkan, meluruskan, mendidik dan mengakui, kecuali dalam beberapa hal yang memang membawa kerusakan dan madlarat, maka syari’ pasti melarangnya.
Jadi, pokok dalam urusan ibadah hanya bersumber pada ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Jika tidak demikian, berarti kita akan termasuk dalam apa yang disebutkan Allah :
اَمْ لَهُمْ شُرَكَآؤُا شَرَعُوْا لَهُمْ مّنَ الدّيْنِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللهُ. الشورى: 21
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah ?. [QS. Asy-Syuuraa : 21]
Sedang dalam persoalan adat, prinsipnya boleh. Tidak satupun yang terlarang kecuali yang memang telah diharamkan. Jika tidak demikian, maka kita akan termasuk dalam apa yang difirmankan Allah :
قُلْ اَرَءَيْتُمْ مَّآ اَنْزَلَ اللهُ لَكُمْ مّنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مّنْهُ حَرَامًا وَّ حَللاً، قُلْ آ للهُ اَذِنَ لَكُمْ اَمْ عَلَى اللهِ تَفْتَرُوْنَ. يونس: 59
Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku tentang rezqi yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal”. Katakanlah, “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah ?”. [QS. Yuunus : 59]
Dengan dasar itulah maka manusia dapat melakukan jual-beli dan sewa-menyewa sesuka hatinya, selama hal itu tidak diharamkan oleh syara’. Begitu juga boleh makan dan minum sesukanya, selama tidak diharamkan oleh syara’, sekalipun sebagiannya kadang-kadang disunnatkan dan adakalanya dimakruhkan. Sesuatu yang oleh syara’ tidak diberinya batasan, maka kita dapat menetapkan kemuthlaqan hukum asal.
Prinsip di atas sesuai dengan apa yang disebut dalam satu riwayat yang diriwayatkan oleh Muslim, dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata :
كُنَّا نَعْزِلُ وَ اْلقُرْانُ يَنْزِلُ. قال سفيان: لَوْ كَانَ شَيْئًا يُنْهَى عَنْهُ لَنَهَانَا عَنْهُ اْلقُرْانُ. مسلم 2: 1065
Kami pernah melakukan ‘azl, sedang waktu itu Al-Qur’an masih turun. Sufyan berkata,” Jika hal tersebut dilarang, tentu Al-Qur’an melarangnya”. [HR. Muslim juz 2, hal. 1965]
Ini menunjukkan bahwa apasaja yang didiamkan oleh wahyu, tidaklah terlarang, manusia bebas untuk mengerjakannya, sehingga ada nash yang melarang atau mencegahnya.
Dan dengan ini pula, ditetapkan suatu qaidah, “Soal ibadah tidak boleh dikerjakan kecuali dengan syari’at yang ditetapkan Allah. Dan suatu adat tidak boleh diharamkan, kecuali dengan ketentuan dari Allah”.
2. Menentukan halal-haram semata-mata haq Allah
Islam telah memberikan batas wewenang untuk menentukan halal dan haram, yaitu dengan melepaskan haq tersebut dari tangan manusia, betapapun tingginya kedudukan manusia tersebut dalam bidang agama maupun duniawinya.
Hak tersebut semata-mata di tangan Allah, bukan di tangan para ulama, bukan para pendeta, bukan raja dan bukan sultan yang berhak menentukan halal-haram. Barangsiapa bersikap demikian, berarti telah melanggar batas dan menentang hak Allah dalam menetapkan perundang-undangan untuk ummat manusia. Dan barangsiapa yang menerima serta mengikuti sikap tersebut, berarti dia telah menjadikan mereka itu sebagai sekutu Allah. Firman Allah SWT :
اَمْ لَهُمْ شُرَكَآؤُا شَرَعُوْا لَهُمْ مّنَ الدّيْنِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللهُ. الشورى: 21
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah ?. [QS. Asy-Syuuraa : 21]
اِتَّخَذُوْآ اَحْبَارَهُمْ وَ رُهْبَانَهُمْ اَرْبَابًا مّنْ دُوْنِ اللهِ وَ اْلمَسِيْحَ بْنَ مَرْيَمَ وَ مَآ اُمِرُوْآ اِلاَّ لِيَعْبُدُوْآ اِلَهًا وَّاحِدًا لاَ اِلهَ اِلاَّ هُوَ، سُبْحنَه عَمَّا يُشْرِكُوْنَ. التوبة: 31
Mereka menjadikan orang-orang ‘alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan juga mereka mempertuhankan Al-Masih putra Maryam. Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. [QS. At-Taubah : 31]
Tirmidzi meriwayatkan sebagai berikut :
عَنْ عَدِيّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ: اَتَيْتُ النَّبِيَّ ص وَ فِى عُنُقِى صَلِيْبٌ مِنْ ذَهَبٍ، فَقَالَ: يَا عَدِيُّ اِطْرَحْ عَنْكَ هذَا اْلوَثَنَ. وَ سَمِعْتُهُ يَقْرَأُ فِى سُوْرَةِ بَرَاءَةَ (اِتَّخَذُوْآ اَحْبَارَهُمْ وَ رُهْبَانَهُمْ اَرْبَابًا مّنْ دُوْنِ اللهِ) قَالَ: اَمَا اِنَّهُمْ لَمْ يَكُوْنُوْا يَعْبُدُوْنَهُمْ، وَ لكِنَّهُمْ كَانُوْا اِذَا اَحَلُّوْا لَهُمْ شَيْئًا اِسْتَحَلُّوْهُ، وَ اِذَا حَرَّمُوْا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوْهُ. الترمذى 4: 341، رقم: 3093
Dari ‘Adiy bin Hatim, ia berkata : Saya pernah datang kepada Nabi SAW, sedang waktu itu saya memakai kalung salib terbuat dari emas,maka Nabi SAW bersabda, “Hai ‘Adiy, buanglah berhala itu darimu!”. Dan saya pernah mendengar beliau membaca surat Bara’ah (yang artinya) “Mereka menjadikan orang-orang ‘alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah”. [Bara’ah : 31] Beliau bersabda, Ketahuilah, sesungguhnya mereka itu tidak menyembahnya, tetapi mereka itu bila orang-orang ‘alimnya dan rahib-rahib mereka menghalalkan sesuatu, merekapun menganggapnya halal, dan bila orang-orang ‘alim dan rahib-rahib mereka mengharamkan sesuatu, merekapun menganggapnya haram. [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 341, no. 3093]
Dari beberapa ayat dan hadits tersebut di atas, kita mengetahui bahwa hanya Allah lah yang berhaq menentukan halal dan haram, baik dalam kitab-Nya (Al-Qur’an) ataupun melalui lidah Rasul-Nya (Sunnah). Tugas kita tidak lebih hanya sekedar menerangkan hukum yang telah ditetapkan Allah tentang halal dan haram itu,
Jadi, tentang urusan keduniaan asalnya adalah boleh, kecuali jika ada dalil yang mengharamkannya. Adapun tentang ibadah, asalnya adalah dilarang, kecuali jika ada perintah atau tuntunannya.
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ
Bagikan
Risalah Halal Haram (02)
4/
5
Oleh
Fatima
