Petunjuk Rasulullah SAW tentang sikap Malu
عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ اْلخُدْرِيّ يَقُوْلُ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص
اَشَدَّ حَيَاءً مِنَ اْلعَذْرَاءِ فِى خِدْرِهَا. وَ كَانَ اِذَا كَرِهَ شَيْئًا
عَرَفْنَاهُ فِى وَجْهِهِ. مسلم
Dari
Abu Sa’id
Al-Khudriy, ia berkata, “Adalah
Rasulullah SAW itu lebih pemalu dari pada gadis dalam pingitan. Dan apabila
beliau tidak suka kepada sesuatu, kami dapat mengetahuinya dari wajah
beliau”.
[HR Muslim juz 4, hal. 1809]
عَنْ عَبْدِ اللهِ ابْنِ عُمَرَ رض قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ ص عَلَى
رَجُلٍ وَ هُوَ يُعَاتِبُ اَخَاهُ فِى
اْلحَيَاءِ. يَقُوْلُ: اِنَّكَ لَتَسْتَحْيِىْ حَتَّى كَاَنَّهَ يَقُوْلُ قَدْ
اَضَرَّ بِكَ. فقال رَسُوْلُ اللهِ ص: دَعْهُ فَاِنَّ اْلحَيَاءَ مِنَ
اْلاِيْمَانِ. البخارى
Dari
‘Abdullah
bin Umar RA, ia berkata : “Nabi
SAW pernah melewati seorang laki-laki yang sedang mencaci saudaranya karena dia
pemalu. Orang laki-laki itu berkata (kepada saudaranya), “Sungguh
kamu itu pemalu sekali, hingga seolah-olah orang laki-laki itu berkata, “Hal
itu akan merugikan kamu”.
Maka Rasulullah SAW bersabda, “Biarkan
saja dia, sesungguhnya malu itu bagian dari iman”.
[HR Bukharijuz 7, 100]
عَنْ اَبِى مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ص: اِنَّ مِمَّا
اَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ اْلاُوْلَى اِذَا لَمْ تَسْتَحِ
فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ. البخارى
Dari
Abu Mas’ud,
ia berkata : Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya
diantara apa-apa yang didapati orang-orang dari perkataan para Nabi dahulu ialah
: Apabila kamu sudah tidak malu, maka berbuatlah sekehendakmu”.
[HR.
Bukhari juz 7, hal. 100]
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ص: اَلْحَيَاءُ
لاَ يَأْتِى اِلاَّ بِخَيْرٍ. فَقَالَ بُشَيْرُ بْنُ كَعْبٍ: مَكْتُوْبٌ فىِ
اْلحِكْمَةِ اِنَّ مِنَ اْلحيَاءِ وَقَارًا وَ اِنَّ مِنَ اْلحَيَاءِ سَكِيْنَةً.
فَقَالَ لَهُ عِمْرَانُ: اُحَدّثُكَ عَنْ رَسْوْلِ اللهِ ص وَ تُحَدّثُنِى عَنْ
صَحِيْفَتِكَ. البخارى
Dari
‘Imran
bin Hushain, ia berkata : Nabi SAW bersabda,
“Malu
itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan”.
Lalu Busyair bin Ka’ab
berkata, “Tercatat
di dalam hikmah sesungguhnya dari malu itu ada ketenangan dan sesungguhnya dari
malu itu ada ketenteraman”.
Kemudian ‘Imran
bin Hushain berkata kepadanya, “Aku
menceritakan ini kepadamu dari Rasulullah SAW, (mengapa) kamu menceritakan
kepadaku dari catatanmu ?”.
[HR Bukhari juz 7, hal. 100].
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: َاْلاِيْمَانُ
بِضْعٌ وَ سَبْعُوْنَ اَوْ بِضْعٌ وَ سِتُّوْنَ شُعْبَةً. فَاَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ
اِلهَ اِلاَّ اللهُ، وَ اَدْنَاهَا اِمَاطَةُ اْلاَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ. وَ
اْلحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ اْلاِيْمَانِ. مسلم
Dari
Abu Hurairah ia berkata : Rasulullah SAW bersabda,
“Iman
itu ada tujuh puluh cabang lebih, atau enam puluh cabang lebih. Yang paling utama ialah ucapan, “Laa
ilaaha illallooh”
(Tiada Tuhan selain Allah) dan yang paling ringan ialah menyingkirkan gangguan
di jalan. Dan malu adalah satu cabang dari iman”.
[HR Muslim juz 1, hal. 63]
عَنْ زَيْدِ بْنِ طَلْحَةَ بْنِ رُكَانَةَ يَرْفَعُهُ اِلىَ النَّبِيَّ
ص قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لِكُلّ دِيْنٍ خُلُقٌ. وَ خُلُقُ اْلاِسْلاَمِ
َاْلحَيَاءُ. مالك فى الموطأ
Dari
Zaid bin Thalhah bin Rukanah, ia mengatakannya dari
Nabi SAW, Rasulullah SAW bersabda, “Bagi
tiap-tiap agama itu ada akhlaqnya, dan akhlaq Islam adalah
malu”.
[HR Malik, di dalam Muwaththa’
: 905]
عَنْ اَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَا كَانَ اْلفُحْشُ فِى
شَيْءٍ اِلاَّ شَانَهُ وَ مَا كَانَ اْلحَيَاءُ فِى شَيْءٍ اِلاَّ
زَانَهُ. الترمذى و قال حديث حسن غريب
Dari
Anas, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda,
“Tidaklah
kekejian dan kata-kata kotor itu berada pada sesuatu melainkan akan
menjadikannya buruk, dan malu itu tidaklah berada pada sesuatu melainkan akan
menjadikannya indah.
[HR Tirmidzi ia berkata, “Hadits
Hasan Gharib”,
juz 3, hal. 235, no. 2040]
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رض قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ص: َاْلحَيَاءُ وَ
اْلاِيْمَانُ قَرَنَا جَمِيْعًا. فَاِذَا رُفِعَ اَحَدُهُمَا رُفِعَ
اْلآخَرُ. الحاكم فى المستدرك
Dari
Ibnu ‘Umar
RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda,
“Malu
dan iman itu selalu bersama, maka apabila hilang salah satunya hilang pula yang
lain”.
[HR. Hakim, dalam Al-Mustadrak juz 1, hal. 73]
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص:
اِسْتَحْيُوْا مِنَ اللهِ حَقَّ اْلحَيَاءِ، قُلْنَا: يَا نَبِيَّ اللهِ اِنَّا
لَنَسْتَحْيِى وَ اْلحَمْدُ ِللهِ. قَالَ: لَيْسَ ذَاكَ وَ لكِنْ َاْلاِسْتِحْيَاءُ
مِنَ اللهِ حَقَّ اْلحَيَاءِ اَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَ مَا وَعَى، وَ تَحْفَظَ
اْلبَطْنَ وَ مَا حَوَى، وَ تَتَذَكَّرَ اْلمَوْتَ وَ اْلبِلَى. وَ مَنْ اَرَادَ
اْلآخِرَةَ تَرَكَ زِيْنَةَ الدُّنْيَا. فَمَنْ فَعَلَ ذلِكَ فَقَدِ اسْتَحْيَى
يَعْنِى مِنَ اللهِ حَقَّ اْلحَيَاءِ. الترمذى
Dari
‘Abdullah
bin Mas’ud,
ia berkata : Rasulullah SAW bersabda,
“Malulah
kalian kepada Allah dengan sebenar-benar malu”.
Kami berkata, “Wahai
Nabi Allah, sesungguhnya kami malu, Alhamdulillah (segala puji bagi Allah)”.
Rasulullah SAW bersabda, “Bukan
begitu, tetapi malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu itu ialah kamu
menjaga kepala dan apa yang ada di dalamnya, kamu menjaga perut dengan segala
isinya, dan hendaklah kamu mengingat mati dan kehancuran. Barangsiapa
menghendaki akhirat dengan meninggalkan kemewahan dunia, orang yang berbuat
demikian, maka ia telah malu yakni kepada Allah dengan sebenar-benar
malu”.
[HR Tirmidzi juz 4, hal. 53, no. 2575]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: َاْلحَيَاءُ مِنَ
اْلاِيْمَانِ وَ اْلاِيْمَانُ فِى اْلجَنَّةِ. وَ اْلبَذَاءُ مِنَ اْلجَفَاءِ وَ
اْلجَفَاءُ فِى النَّارِ. الترمذى و قال هذا حديث حسن صحيح،
Dari
Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda,
“Malu
itu sebagian dari iman, dan iman itu di surga. Perkataan kotor
itu termasuk perangai yang kasar dan perangai yang kasar itu di neraka”.
[HR Tirmidzi, ia berkata, “Ini
hadits hasan shahih”,
juz 3, hal. 247, no. 2077]
عَنْ اَبِى اُمَامَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: َاْلحَيَاءُ وَ اْلعِيُّ
شُعْبَتَانِ مِنَ اْلاِيْمَانِ. وَ اْلبَذَاءُ وَ اْلبَيَانُ شُعْبَتَانِ مِنَ
النّفَاقِ. الترمذى و قال هذا حديث حسن غريب
Dari
Abu Umamah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Malu
dan sedikit bicara itu dua cabang dari iman, sedang perkataan kotor dan banyak
bicara itu dua cabang dari kemunafiqan”.
[HR Tirmidzi, ia berkata, “Ini
hadits hasan gharib”,
juz 3, hal. 253, no. 2096]
عَنْ اَبِى اُمَامَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّ اْلحَيَاءَ
وَ اْلعِيَّ مِنَ اْلاِيْمَانِ وَ هُمَا يُقَرّبَانِ مِنَ اْلجَنَّةِ وَ
يُبَاعِدَانِ مِنَ النَّارِ. وَ اْلفُحْشَ وَ اْلبَذَاءَ مِنَ الشَّيْطَانِ وَ
هُمَا يُقَرّبَانِ مِنَ النَّارِ وَ يُبَاعِدَانِ مِنَ اْلجَنَّةِ. الطبرانى فى الكبير، ضعيف، فى اسناده محمد بن محصن
العكاشى
Dari
Abu Umamah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda,
“Malu
dan sedikit bicara itu termasuk bagian dari iman, dan keduanya itu mendekatkan
ke surga dan menjauhkan dari neraka. Perbuatan keji dan
kata-kata kotor itu dari syaithan, keduanya mendekatkan ke neraka dan menjauhkan
dari surga”.
[HR Thabrani di dalam Al-Kabiir juz 8, hal. 96, no. 7481, dlaif karena di dalam
sanadnya ada Muhammad bin Mihshan Al-‘Ukasyi]
عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اِنَّ اللهَ عَزَّ وَ
جَلَّ اِذَا اَرَادَ اَنْ يُهْلِكَ عَبْدًا نَزَعَ مِنْهُ اْلحَيَاءَ، فَاِذَا
نَزَعَ مِنْهُ اْلحَيَاءَ لَمْ تَلْقَهُ اِلاَّ مَقِيْتًا مُمَقَّتًا. فَاِذَا لَمْ
تَلْقَهُ اِلاَّ مَقِيْتًا مُمَقَّتًا نُزِعَتْ مِنْهُ اْلاَمَانَةُ. فَاِذَا
نُزِعَتْ مِنْهُ اْلاَمَانَةُ لَمْ تَلْقَهُ اِلاَّ خَائِنًا مُخَوَّنًا. فَاِذَا
لَمْ تَلْقَهُ اِلاَّ خَائِنًا مُخَوَّنًا نُزِعَتْ مِنْهُ الرَّحْمَةُ. فَاِذَا
نُزِعَتْ مِنْهُ الرَّحْمَةُ لَمْ تَلْقَهُ اِلاَّ رَجِيْمًا مُلَعَّنًا. فَاِذَا
لَمْ تَلْقَهُ اِلاَّ رَجِيْمًا مُلَعَّنًا نُزِعَتْ مِنْهُ رِبْقَةُ
اْلاِسْلاَمِ. ابن ماجه، ضعيف، فى اسناده سعيد بن سنان
Dari
Ibnu Umar, ia berkata : Bahwasanya Nabi SAW bersabda,
“Sesungguhnya
Allah ‘Azza
wa Jalla apabila menghendaki kehancuran seorang hamba, Dia mencabut rasa malu
dari orang itu. Apabila Allah telah mencabut rasa malu dari orang itu, maka kamu
tidak akan mendapatinya kecuali sebagai orang yang
sangat dibenci. Apabila kamu sudah tidak mendapatinya kecuali sebagai orang yang
sangat dibenci, maka akan dicabut amanah darinya.
Apabila amanah telah dicabut darinya, maka kamu tidak akan mendapatinya kecuali sebagai orang yang berkhianat dan
tidak dapat dipercaya. Apabila kamu sudah tidak mendapatinya kecuali ia berkhianat dan tidak bisa dipercaya, maka akan tercabut
rahmat darinya. Apabila rahmat itu sudah dicabut dari orang itu, maka kamu tidak
akan mendapatinya kecuali sebagai orang yang jauh dari
kebaikan dan terlaknat. Apabila kamu sudah tidak mendapatinya kecuali sebagai
orang yang jauh dari kebaikan dan terlaknat, maka akan tercabutlah ikatan Islam
dari orang itu”.
[HR Ibnu Majah juz 2, hal. 1347, no. 4054, dlaif karena di dalam sanadnya ada
Sa’id
bin Sinan]
عَنْ اَبِى وَاقِدٍ اللَّيْثِيّ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص بَيْنَمَا هُوَ
جَالِسٌ فِى اْلمَسْجِدِ وَ النَّاسُ مَعَهُ اِذْ اَقْبَلَ ثَلاَثَةُ نَفَرٍ
فَاَقْبَلَ اثْنَانِ اِلىَ رَسُوْلِ اللهِ ص وَ ذَهَبَ وَاحِدٌ قَالَ: فَوَقَفَا
عَلَى رَسُوْلِ اللهِ ص. فَاَمَّا اَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِى اْلحَلْقَةِ
فَجَلَسَ فِيْهَا وَ اَمَّا اْلآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ وَ اَمَّا الثَّالِثُ
فَاَدْبَرَ ذَاهِبًا. فَلَمَّا فَرَغَ رَسُوْلُ اللهِ ص قَالَ: اَلاَ اُخْبِرُكُمْ
عَنِ النَّفَرِ الثَّلاَثَةِ، اَمَّا اَحَدُهُمْ فَاَوَى اِلىَ اللهِ فَاَوَاهُ
اللهُ، وَ اَمَّا اْلآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللهُ مِنْهُ وَ اَمَّا
اْلآخَرُ فَاَعْرَضَ فَاَعْرَضَ اللهُ عَنْهُ. البخارى
Dari
Abu Waqid Al-Laitsiy bahwasanya Rasulullah SAW ketika duduk di masjid bersama
para shahabat, tiba-tiba datang tiga orang. Kemudian yang dua orang maju kepada
Rasulullah SAW, sedang yang satu lalu pergi. Abu Waqid berkata,
“Maka
dua orang itu berhenti dan bergabung bersama Rasulullah SAW. Adapun salah seorang dari mereka ketika melihat tempat yang kosong
lalu duduk padanya. Sedang yang satunya lagi duduk di
belakang mereka. Adapun orang yang ketiga, ia mundur lalu
pergi”.
Maka setelah Rasulullah SAW selesai, beliau bersabda, “Maukah
aku khabarkan kepada kalian tentang tiga orang tadi ?
Adapun seorang diantara mereka, ia berlindung kepada
Allah, maka Allah melindunginya. Adapun yang satunya, ia malu kepada Allah, maka Allah pun malu kepadanya. Adapun
yang lain, ia berpaling, maka Allah pun berpaling dari
padanya”.
[HR. Bukhari juz 1, hal. 24]
عَنْ اُمّ سَلَمَةَ قَالَتْ: جَاءَتْ اُمُّ سُلَيْمٍ اِلىَ رَسُوْلِ
اللهِ ص فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَحْيِى مِنَ اْلحَقّ،
فَهَلْ عَلَى اْلمَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ اِذَا احْتَلَمَتْ؟ قَالَ النَّبِيُّ ص:
اِذَا رَأَتِ اْلمَاءَ. فَغَطَّتْ اُمُّ سَلَمَةَ تَعْنِى وَجْهَهَا وَ قَالَتْ:
يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَ تَحْتَلِمُ اْلمَرْأَةُ؟ قَالَ: نَعَمْ. تَرِبَتْ
يَمِيْنُكِ فَبِمَ يُشْبِهُهَا وَلَدُهَا. البخارى
Dari Ummu Salamah, ia berkata
: Ummu Sulaim datang kepada Rasulullah SAW lalu bertanya, “Ya
Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu menerangkan kebenaran, apakah wanita
wajib mandi apabila ia bermimpi ?”.
Nabi SAW menjawab, “(Ya),
apabila ia melihat air (mani)”.
Maka Ummu Salamah menutupi wajahnya dan bertanya, “Ya
Rasulullah, apakah wanita juga bermimpi ?”.
Beliau menjawab, “Ya.
Berdebu tanganmu, lalu dengan apa anaknya menyerupai dia
?”.
[HR. Bukhari juz 1, hal. 41]
قَالَتْ عَائِشَةُ: نِعْمَ النّسَاءُ نِسَاءُ اْلاَنْصَارِ لَمْ
يَمْنَعْهُنَّ اْلحَيَاءُ اَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِى الدّيْنِ. البخارى
‘Aisyah
berkata, “Sebaik-baik
wanita adalah wanita-wanita Anshar, tidak menghalangi kepada mereka itu rasa
malu untuk mendalami agama”.
[Bukhari juz 1, hal. 41]
عَنْ عَلِيّ اَنَّهُ قَالَ: اِسْتَحْيَيْتُ اَنْ اَسْأَلَ النَّبِيَّ ص
عَنِ اْلمَذْيِ مِنْ اَجْلِ فَاطِمَةَ فَاَمَرْتُ اْلمِقْدَادَ فَسَاَلَهُ،
فَقَالَ: مِنْهُ اْلوُضُوْءُ. مسلم
Dari
‘Ali,
bahwasanya ia berkata : Aku malu untuk bertanya kepada
Nabi SAW tentang madzi karena Fathimah (adalah istriku), lalu aku menyuruh
Miqdad, lalu ia bertanya kepada beliau. Beliau menjawab, “Darinya
menyebabkan wudlu”.
[HR. Muslim juz 1, hal. 247]
عَنْ عَلِيّ قَالَ: كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً وَ كُنْتُ اَسْتَحْيِى اَنْ
اَسْأَلَ النَّبِيَّ ص لِمَكَانِ ابْنَتِهِ. فَاَمَرْتُ اْلمِقْدَادَ بْنَ
اْلاَسْوَدِ. فَسَأَلَهُ. فَقَالَ: يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَ يَتَوَضَّأُ. مسلم
Dari
‘Ali,
ia berkata : Aku adalah seorang laki-laki yang banyak
mengeluarkan madzi dan aku malu untuk bertanya kepada Nabi SAW, karena putri
beliau (menjadi istriku), lalu aku menyuruh Miqdad bin Aswad, lalu ia bertanya
kepada beliau. Beliau menjawab, “(Orang
yang mengeluarkan madzi itu supaya) mencuci kemaluannya, lalu
berwudlu”.
[HR. Muslim juz 1, hal. 247]
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: مُرْنَ اَزْوَاجَكُنَّ اَنْ يَسْتَطِيْبَ
بِاْلمَاءِ، فَاِنّى اَسْتَحْيِيْهِمْ، فَاِنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص كَانَ
يَفْعَلُهُ. الترمذى هذا حديث حسن صحيح
Dari
‘Aisyah,
ia berkata, “Suruhlah
suami-suami kalian supaya istinjak dengan air, sebab aku malu (menyampaikan
langsung) kepada mereka, karena Rasulullah SAW dahulu melakukan yang demikian
itu”.
[HR.Tirmidzi juz 1, hal. 16, dia berkata, “Ini
hadits hasan shahih”.]
Bagikan
Rasa Malu
4/
5
Oleh
Fatima

