
Petunjuk Rasulullah SAW supaya menjauhi ghibah
ياَيُّهَا
الَّذِيْنَ
امَنُوْا لاَ
يَسْخَرْ
قَوْمٌ مّنْ
قَوْمٍ عَسى
اَنْ يَّكُوْنُوْا
خَيْرًا
مّنْهُمْ، وَ
لاَ نِسَآءٌ
مّنْ نّسَآءٍ
عَسى اَنْ
يَّكُنَّ
خَيْرًا مّنْهُنَّ،
وَ لاَ
تَلْمِزُوْآ
اَنْفُسَكُمْ
وَ لاَ
تَنَابَزُوْا
بِاْلاَلْقَابِ،
بِئْسَ
الاِسْمُ
اْلفُسُوْقُ
بَعْدَ اْلاِيْمَانِ.
وَ مَنْ لَّمْ
يَتُبْ
فَاُولئِكَ هُمُ
الظّلِمُوْنَ.
ياَيُّهَا
الَّذِيْنَ
امَنُوا
اجْتَنِبُوْا
كَثِيْرًا
مّنَ
الظَّنّ،
اِنَّ بَعْضَ
الظَّنّ
اِثْمٌ وَّ
لاَ
تَجَسَّسُوْا
وَ لاَ
يَغْتَبْ
بَعْضُكُمْ
بَعْضًا،
اَيُحِبُّ
اَحَدُكُمْ
اَنْ
يَّأْكُلَ
لَحْمَ اَخِيْهِ
مَيْتًا
فَكَرِهْتُمُوْهُ،
وَ اتَّقُوا
اللهَ، اِنَّ
اللهَ
تَوَّابٌ
رَّحِيْمٌ.
الحجرات:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum
mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok)
lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita
(mengolok-olok) wanita-wanita lain, (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang
diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu
mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar
yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman
dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang
dhalim. (11)
Hai orang-orang yang beriman, jauhkanlah
kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan
janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu
menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan
daging saudaranya yang sudah mati ? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.
Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang. (12) [QS.
Al-Hujuraat : 11-12]
عَنْ
اَبِى
هُرَيْرَةَ
اَنَّ
رَسُوْلَ اللهِ
ص قَالَ: اَ
تَدْرُوْنَ
مَا
اْلغِيْبَةُ؟
قَالُوْا:
اَللهُ وَ
رَسُوْلُهُ
اَعْلَمُ. قَالَ:
ذِكْرُكَ
اَخَاكَ
بِمَا
يَكْرَهُ. قِيْلَ:
اَفَرَأَيْتَ
اِنْ كَانَ
فِى اَخِى مَا
اَقُوْلُ؟
قَالَ: اِنْ
كَانَ فِيْهِ
مَا تَقُوْلُ
فَقَدِ
اغْتَبْتَهُ،
وَ اِنْ لَمْ
يَكُنْ
فِيْهِ
فَقَدْ
بَهَتَّهُ.
مسلم
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW
bersabda (kepada para shahabatnya), “Tahukah kalian apakah ghibah itu
?”. Para shahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih
mengetahui”. Beliau bersabda, “(Ghibah) ialah kamu menyebut tentang
saudaramu dengan apa-apa yang dia tidak suka”. Ada yang bertanya kepada
beliau, “Bagaimana pendapat engkau jika keadaan saudaraku itu memang
betul-betul seperti apa yang aku katakan ?”. Rasulullah SAW bersabda,
“Jika keadaan saudaramu itu betul seperti apa yang kamu katakan, maka
sungguh kamu telah berbuat ghibah kepadanya. Dan jika (apa yang kamu katakan
itu) tidak ada padanya, maka berarti kamu telah berbuat buhtan (kebohongan)
kepadanya”. [HR.
Muslim juz 4, hal. 2001]
عَنْ
عَائِشَةَ رض
قَالَتْ:
قُلْتُ
لِلنَّبِيّ ص:
حَسْبُكَ
مِنْ
صَفِيَّةَ
كَذَا وَ كَذَا.
قَالَ بَعْضُ
الرُّوَّاةِ:
تَعْنِى قَصِيْرَةً.
فَقَالَ: لَقَدْ
قُلْتِ لَوْ
مُزِجَتْ
بِمَاءِ
اْلبَحْرِ
لَمَزَجَتْهُ.
قَالَتْ: وَ
حَكَيْتُ
لَهُ اِنْسَانًا.
فَقَالَ: مَا
اُحِبُّ
اَنّى حَكَيْتُ
اِنْسَانًا
وَ اَنَّ لِى
كَذَا وَ كَذَا.
ابو داود
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Saya pernah
berkata kepada Nabi SAW, “Cukup bagimu dari Shafiyah begini dan
begitu”. Sebagian orang-orang yang meriwayatkan mengatakan : Yang
dimaksud ‘Aisyah ialah, “Ia wanita yang pendek”. Maka
Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh kamu telah mengatakan suatu kalimat
seandainya dicampur dengan air laut sungguh air laut itu menjadi keruh”.
Dan ‘Aisyah pernah berkata, “Saya pernah menceritakan tentang
seseorang kepada beliau, maka beliau bersabda, “Aku tidak suka
menceritakan (keburukan) seseorang meskipun akan mendapatkan upah sekian dan
sekian”. [HR. Abu Dawud
juz 4, hal. 269]
عَنْ
عَائِشَةَ رض
اَنَّهُ
اعْتَلَّ
بَعِيْرٌ
لِصَفِيَّةَ
بِنْتِ
حُيَيّ، وَ
عِنْدَ زَيْنَبَ
فَضْلُ
ظَهْرٍ،
فَقَالَ
النَّبِيُّ ص
لِزَيْنَبَ:
اَعْطِيْهَا
بَعِيْرًا. فَقَالَتْ:
اَنَا
اُعْطِى
تِلْكَ
اْليَهُوْدِيَّةَ؟
فَغَضِبَ
رَسُوْلُ اللهِ
ص،
فَهَجَرَهَا
ذَا
اْلحِجَّةِ
وَ اْلمُحَرَّمَ
وَ بَعْضَ
صَفَرٍ.
ابو داود،
الترغيب و
الترهيب
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Sesungguhnya
untanya Shafiyah binti Huyaiyyin sedang sakit, sedang Zainab mempunyai
kelebihan kendaraan. Maka Nabi SAW bersabda kepada Zainab, “Berikanlah
onta kepadanya !”. Lalu (Zainab) menjawab, “Saya disuruh memberi
kepada wanita Yahudi itu ?”. Kemudian Nabi SAW marah dan meninggalkan
Zainab pada bulan Dzulhijjah, Muharram dan sebagian bulan Shafar. [HR. Abu Dawud, dalam Targhib wat Tarhib juz 3,
hal. 505]
عَنْ
اَبِى
هُرَيْرَةَ
رض قَالَ:
كُنَّا عِنْدَ
النَّبِيّ ص
فَقَامَ
رَجُلٌ
فَقَالُوْا:
يَا رَسُوْلَ
اللهِ، مَا
اَعْجَزَ
فُلاَنًا!
اَوْ
قَالُوْا: مَا
اَضْعَفَ
فُلاَنًا! فَقَالَ
النَّبِيُّ ص:
اغْتَبْتُمْ
صَاحِبَكُمْ
وَ
اَكَلْتُمْ
لَحْمَهُ.
ابو يعلى و
الطبرانى و
لفظه: اِنَّ
رَجُلاً
قَامَ مِنْ
عِنْدِ
النَّبِيّ ص
فَرَأَوْا
فِى
قِيَامِهِ
عَجْزًا.
فَقَالُوْا:
مَا اَعْجَزَ
فُلاَنًا!
فَقَالَ رَسُوْلُ
اللهِ ص:
اَكَلْتُمْ
اَخَاكُمْ وَ
اغْتَبْتُمُوْهُ.
الترغيب و
الترهيب
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Dahulu ketika
kami di sisi Nabi SAW, ada seorang laki-laki berdiri. Lalu orang-orang sama
berkata, “Ya Rasulullah, alangkah sangat loyonya si fulan itu !”.
Atau mereka berkata, “Alangkah sangat lemahnya orang itu”. Maka
Nabi SAW bersabda, “Kalian telah berbuat ghibah kepada teman kalian dan
kalian telah makan dagingnya”. [HR. Abu Ya’la, dan Thabrani
meriwayatkan dengan lafadhnya], sesungguhnya ada seorang laki-laki berdiri di
sisi Nabi SAW, maka orang-orang melihat ketika dia berdiri itu dalam keadan
loyo. Mereka berkata, “Alangkah sangat loyonya si fulan itu”. Maka
Rasulullah SAW bersabda, “Kalian telah makan saudaramu dan kalian telah
berbuat ghibah kepadanya”. [Dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 506]
عَنْ
عَمْرِو بْنِ
شُعَيْبٍ
عَنْ
اَبِيْهِ عَنْ
جَدّهِ
اَنَّهُمْ
ذَكَرُوْا
عِنْدَ رَسُوْلِ
اللهِ ص
رَجُلاً،
فَقَالُوْا:
لاَ يَأْكُلُ
حَتَّى
يُطْعَمَ، وَ
لاَ يَرْحَلُ
حَتَّى
يُرْحَلَ
لَهُ،
فَقَالَ
النَّبِيُّ ص:
اغْتَبْتُمُوْهُ،
فَقَالُوْا:
يَا رَسُوْلَ
اللهِ،
اِنَّمَا
حَدَّثْنَا
بِمَا فِيْهِ.
قَالَ: حَسْبُكَ
اِذَا
ذَكَرْتَ
اَخَاكَ
بِمَا فِيْهِ.
الاصبهانى
باسناد حسن،
الترغيب و
الترهيب
Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya
dari kakeknya, bahwasanya orang-orang menyebutkan tentang seorang laki-laki di
dekat Rasulullah SAW. Mereka mengatakan, “Orang itu tidak makan sehingga
ia diberi makan, dan ia tidak punya tempat tinggal hingga diberi tempat
tinggal”. Maka Nabi SAW bersabda, “Kalian telah berbuat ghibah
kepadanya”. Lalu mereka menjawab, “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami
hanya menceritakan apa adanya”. Rasulullah SAW bersabda, “Cukup
bagimu (dikatakan berbuat ghibah) apabila kamu menyebutkan saudaramu dengan apa
yang ada padanya”. [HR.
Al-Ashbihaniy dengan sanad hasan, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 506]
عَنْ
عَمْرِو بْنِ
اْلعَاصِ رض
اَنَّهُ
مَرَّ عَلَى
بِغَالٍ
مَيّتٍ
فَقَالَ لِبَعْضِ
اَصْحَابِهِ:
َلاَنْ
يَأْكُلَ
الرَّجُلُ
مِنْ هذَا
حَتَّى
يَمْـَلأَ
بَطْنَهُ
خَيْرٌ لَهُ
مِنْ اَنْ
يَأْكُلَ
لَحْمَ رَجُلٍ
مُسْلِمٍ.
ابو الشيخ ابن
حبان،
الترغيب و
الترهيب
Dari ‘Amr bin ‘Ash RA, bahwasanya dia
pernah melewati seekor bangkai baghal, lalu dia berkata kepada sebagian
shahabat-shahabatnya, “Sungguh seseorang makan bangkai ini sehingga
memenuhi perutnya itu lebih baik baginya dari pada ia makan daging
(menggunjing) seorang muslim”. [HR. Abusy-Syaikh Ibnu Hibban, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal.
509]
عَنْ
اَبِى
هُرَيْرَةَ
رض قَالَ:
جَاءَ اْلاَسْلَمِيُّ
اِلَى
رَسُوْلِ
اللهِ ص
فَشَهِدَ
عَلَى
نَفْسِهِ
بِالزّنَا
اَرْبَعَ شَهَادَاتٍ
يَقُوْلُ:
اَتَيْتُ
امْرَأَةً
حَرَامًا. وَ
فِى كُلّ
ذلِكَ
يُعْرِضُ
عَنْهُ رَسُوْلُ
اللهِ ص.
فَذَكَرْتُ
اْلحَدِيْثَ اِلَى
اَنْ قَالَ:
فَمَا
تُرِيْدُ
بِهذَا اْلقَوْلِ؟
قَالَ:
اُرِيْدُ
اَنْ
تُطَهّرَنِى.
فَاَمَرَ
بِهِ
رَسُوْلُ
اللهِ ص اَنْ
يُرْجَمَ،
فَرُجِمَ.
فَسَمِعَ
رَسُوْلُ
اللهِ ص رَجُلَيْنِ
مِنَ
اْلاَنْصَارِ
يَقُوْلُ اَحَدُهُمَا
لِصَاحِبِهِ:
اُنْظُرْ
اِلَى هذَا
الَّذِى
سَتَرَ اللهُ
عَلَيْهِ
فَلَمْ
يَدَعْ نَفْسَهُ
حَتَّى
رُجِمَ
رَجْمَ
اْلكَلْبِ.
قَالَ:
فَسَكَتَ
رَسُوْلُ
اللهِ ص،
ثُمَّ سَارَ سَاعَةً،
فَمَرَّ
بِجِيْفَةِ
حِمَارٍ شَائِلٍ
بِرِجْلِهِ،
فَقَالَ:
اَيْنَ
فُلاَنٌ وَ
فُلاَنٌ؟
فَقَالُوْا:
نَحْنُ ذَا
يَا رَسُوْلَ
اللهِ.
فَقَالَ
لَهُمَا:
كُلاَ مِنْ
جِيْفَةِ هذَا
اْلحِمَارِ!
فَقَالاَ: يَا
رَسُوْلَ
اللهِ،
غَفَرَ اللهُ
لَكَ، مَنْ
يَأْكُلُ
مِنْ هذَا؟
فَقَالَ
رَسُوْلُ
اللهِ ص: مَا
نِلْتُمَا
مِنْ عِرْضِ
هذَا
الرَّجُلِ
آنِفًا اَشَدُّ
مِنْ اَكْلِ
هذِهِ
اْلجِيْفَةِ.
فَوَ الَّذِى
نَفْسِى
بِيَدِهِ،
اِنَّهُ
اْلآنَ فِى اَنْهَارِ
اْلجَنَّةِ
يَنْغَمِسُ
فِيْهَا.
ابن حبان فى
صحيحه،
الترغيب و
الترهيب
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Telah datang
seorang laki-laki (dari suku) Aslam kepada Rasulullah SAW lalu dia bersaksi
atas dirinya sendiri bahwa dia berbuat zina. Dia bersaksi empat kali. Ia
berkata, “Saya menyetubuhi wanita secara haram”. Setiap ia
mengatakan yang demikian itu, Rasulullah SAW berpaling darinya. Lalu aku
menyebutkan cerita itu hingga perkataan beliau, “Apa yang kamu inginkan
dengan perkataan ini ?”. Orang itu menjawab, “Saya menginginkan
supaya engkau membersihkan diriku”. Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan
supaya ia dirajam. Lalu orang tersebut dirajam. Kemudian Rasulullah SAW
mendengar ada dua orang laki-laki Anshar, salah satunya berkata kepada
temannya, “Lihatlah kepada orang ini yang Allah telah menutupinya, tetapi
ia tidak membiarkan dirinya, sehingga ia dirajam seperti anjing yang dilempari
batu”. (Abu Hurairah) berkata : Rasulullah SAW diam saja. Sebentar
kemudian beliau berjalan (bersama para shahabat), lalu melewati bangkai himar
di dekat kaki beliau. Maka beliau bersabda, “Mana si fulan dan si fulan
itu ?”. Mereka menjawab, “Ini kami ya Rasulullah”. Beliau
bersabda kepada kedua orang itu, “Makanlah bangkai himar ini !”.
Mereka berdua menjawab, “Ya Rasulullah, semoga Allah mengampuni engkau.
Siapa yang mau memakan bangkai himar ini ?”. Lalu Rasulullah SAW
bersabda, “Apa-apa yang kamu dapat dari (menjelek-jelekkan) kehormatan
orang laki-laki tadi adalah lebih buruk dari makan bangkai himar ini. Dan demi
Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya (orang laki-laki yang
telah dirajam itu) sekarang sedang berendam di sungai surga”. [HR. Ibnu Hibban di dalam shahihnya, dalam
Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 510]
عَنْ
اَبِى
اُمَامَةَ رض
قَالَ: قَالَ
رَسُوْلُ
اللهِ ص:
اِنَّ
الرَّجُلَ
لَيُؤْتَى
كِتَابَهُ
مَنْشُوْرًا
فَيَقُوْلُ:
يَا رَبّ، فَاَيْنَ
حَسَنَاتُ
كَذَا وَ
كَذَا عَمِلْتُهَا
لَيْسَتْ
بِصَحِيْفَتِى؟
فَيَقُوْلُ:
مُحِيَتْ
بِاغْتِيَابِكَ
النَّاسَ.
الاصبهانى،
الترغيب و
الترهيب
Dari Abu Umamah RA, ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda, “Sesungguhnya (pada hari qiyamat) ada orang yang diberi kitab
catatannya dengan terbuka”. Maka orang itu bertanya, “Ya Tuhanku,
mana catatan kebaikan ini dan itu yang telah saya kerjakan, koq tidak ada di
sini ?”. Kemudian Allah menjawab, “(Kebaikan-kebaikanmu) terhapus
oleh perbuatan ghibahmu kepada orang lain”. [HR. Al-Ashbihaniy, dalam Targhib wat Tarhib
juz 3, hal. 515]
عَنْ
عُثْمَانَ
بْنِ
عَفَّانَ رض
قَالَ:
سَمِعْتُ
رَسُوْلَ
اللهِ ص
يَقُوْلُ:
اْلغِيْبَةُ
وَ
النَّمِيْمَةُ
يَحُتَّانِ
اْلاِيْمَانَ
كَمَا
يَعْضِدُ
الرَّاعِى
الشَّجَرَةَ.
الاصبهانى،
الترغيب و
الترهيب
Dari ‘Utsman bin ‘Affan RA, ia
berkata : Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Ghibah dan
Namimah (adu-adu) itu bisa meruntuhkan iman sebagaimana seorang penggembala
yang menebang pohon”. [HR.
Al-Ashbihaniy, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 514].
عَنْ
عَائِشَةَ رض
قَالَتْ:
قَالَ
رَسُوْلُ اللهِ
ص
ِلاَصْحَابِهِ:
تَدْرُوْنَ
اَرْبَى
الرّبَا
عِنْدَ
اللهِ؟
قَالُوْا: اَللهُ
وَ
رَسُوْلُهُ
اَعْلَمُ.
قَالَ: فَاِنَّ
اَرْبَى
الرّبَا
عِنْدَ اللهِ
اِسْتِحْلاَلُ
عِرْضِ
امْرِئٍ
مُسْلِمٍ.
ثُمَّ قَرَأَ
رَسُوْلُ
اللهِ ص: وَ
الَّذِيْنَ
يُؤْذُوْنَ
اْلمُؤْمِنِيْنَ
وَ
اْلمُؤْمِنَاتِ
بِغَيْرِ مَا
اكْتَسَبُوْا
فَقَدِ
احْتَمَلُوْا
بُهْتَانًا
وَّ اِثْمًا
مُّبِيْنًا.
ابو يعلى و
رواته رواة
الصحيح،
الترغيب و الترهيب
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Rasulullah
SAW pernah bersabda kepada para shahabatnya, “Tahukah kalian
sebesar-besar riba di sisi Allah ?”. Para shahabat menjawab, “Allah
dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya sebesar-besar riba di sisi Allah ialah menganggap halal
(menjatuhkan) kehormatan orang Islam”. Kemudian Rasulullah SAW membaca
ayat : Walladziina yu’dzuunal-mu’miniina wal mu’minaati bi
ghairi maktasabuu faqodihtamaluu buhtaanaw wa itsmam mubiinaa [QS. Al-Ahzab :
58] (Dan orang-orang yang menyakiti orang mukmin laki-laki dan orang mukmin
perempuan tanpa kesalahan yang mereka lakukan, maka sungguh mereka telah
berbuat buhtan (kebohongan) dan dosa yang nyata). [HR. Abu Ya’la, para perawinya perawi
shahih, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 504]
Bagikan
Ghibah
4/
5
Oleh
Fatima
