Selasa, 14 Juli 2015

Thaharah (13)



Anjuran Dalam Berwudhu'


1. Hal-hal yang disunnatkan kita berwudlu

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: لَوْ لاَ اَنْ اَشُقَّ عَلَى اُمَّتِى َلاَمَرْتُهُمْ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ بِوُضُوْءٍ وَ مَعَ كُلِّ وُضُوْءٍ بِسِوَاكٍ. احمد باسناد صحيح، فى نيل الاوطار 1:245


Dari Abu Hurairar dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Sekiranya tidak akan memberatkan ummatku, tentu aku perintahkan kepada mereka supaya berwudlu untuk tiap-tiap shalat dan setiap berwudlu supaya bersiwak (menggosok gigi)”. [HR. Ahmad dengan sanad yang shahih, dalam Nailul Authar 1 : 246]

عَنْ اَنَسٍ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَتَوَضَّأُ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ. قِيْلَ لَهُ: فَاَنْتُمْ كَيْفَ كُنْتُمْ تَصْنَعُوْنَ؟ قَالَ: كُنَّا نُصَلِّى الصَّلَوَاتِ بِوُضُوْءٍ وَاحِدٍ مَا لَمْ يُحْدِثْ. الجماعة الا مسلما


Dari Anas, ia berkata, “Biasanya Rasulullah SAW berwudlu pada tiap-tiap akan shalat”. Lalu ada orang bertanya keapda Anas, “Sedangkan kalian, bagaimana kalian berbuat ?”. Anas menjawab, “Kami biasa shalat beberapa shalat dengan satu kali wudlu, selama kami belum bathal”. [HR. Jama’ah, kecuali Muslim, dalam Nailul Authar 1 : 248]

2. Berwudhu' setelah makan makanan yang disentuh api


عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: قَالَ النَّبِيُّ ص: تَوَضَّئُوْا مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ. احمد و مسلم و النسائى


Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Nabi SAW bersabda, “Berwudlulah kamu karena makan makanan yang disentuh api”. [HR. Ahmad, Muslim dan Nasai]

عَنْ مَيْمُوْنَةَ رض قَالَتْ: اَكَلَ النَّبِيُّ ص مِنْ كَتِفِ شَاةٍ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى وَ لَمْ يَتَوَضَّأْ. متفق عليه


Dari Maimunah RA, ia berkata : Nabi SAW pernah makan daging sampil depan kambing, sesudah itu beliaupun bangun lalu shalat dengan tidak berwudlu lagi”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Keterangan :

Pada hadits pertama, Nabi SAW memerintahkan kepada ummatnya supaya berwudlu setelah makan makanan yang disentuh api. Sedang pada riwayat kedua, Maimunah menjelaskan bahwa Nabi pernah makan sampil depan kambing (yang tentunya dimasak diatas api), setelah itu beliau shalat tanpa berwudlu lagi.

Dari riwayat ini, dapat diambil kesimpulan bahwa perintah supaya berwudlu sehabis makan makanan yang tersentuh api pada hadits pertama itu hukumnya adalah sunnah.


3. Sunnah berwudlu sebelum tidur

عَنِ اْلبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا اَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ اْلاَيْمَنِ وَ قُلْ: اَللّهُمَّ اَسْلَمْتُ نَفْسِى اِلَيْكَ وَ فَوَضْتُ اَمْرِى اِلَيْكَ وَ اَلْجَأْتُ ظُهْرِى اِلَيْكَ رَهْبَةً وَ رَغْبَةً اِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَ لاَ مَنْجَى مِنْكَ اِلاَّ اِلَيْكَ امَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِى اَنْزَلْتَ وَ بِنَبِيِّكَ الَّذِى اَرْسَلْتَ. فَاِنْ مُتَّ مُتَّ عَلَى اْلفِطْرَةِ. وَ اجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُوْلُ. فَقُلْتُ: اَسْتَذْكِرُهُنَّ وَ بِرَسُوْلِكَ الَّذِى اَرْسَلْتَ. قَالَ: لاَ، وَ نَبِيِّكَ الَّذِى اَرْسَلْتَ. البخارى 5:146


Dari Baraa’ bin ‘Azib RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kamu akan tidur, maka berwudlulah sebagaimana wudlu untuk shalat. Kemudian berbaringlah atas lambung kananmu dan bacalah [Allaahumma aslamtu nafsii ilaika wa fawwadltu amrii ilaika wa alja’tu dhahrii ilaika rahbatan wa raghbatan ilaika laa malja-a wa laa manjaa minka illaa ilaika. Aamantu bi kitaabika alladzii anzalta wa bi Nabiyyika alladzii arsalta] (Ya Allah aku serahkan diriku kepada-Mu, aku pulangkan segala urusanku kepada-Mu dan aku melindungkan diriku kepada-Mu, karena takutku dan cintaku kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan melepaskan diri dari-Mu melainkan kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus), maka jika kamu mati, niscaya kamu mati di dalam fithrah (kesucian) dan jadikanlah doa itu sebagai akhir perkataanmu. (Baraa’ berkata) lalu aku mengulangi doa itu (supaya didengar Nabi SAW) dengan [Wa bi rasuulika alladzii arsalta]. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak begitu, tetapi [Wa bi Nabiyyika alladzii arsalta]”. [HR. Bukhari 7 : 146]


4. Orang yang berjunub, bila hendak tidur, disunnatkan mencuci kemaluannya dan berwudhu'

عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ ص اِذَا اَرَادَ اَنْ يَنَامَ وَ هُوَ جُنُبٌ غَسَلَ فَرْجَهُ وَ تَوَضَّأَ وُضُوْءَهُ لِلصَّلاَةِ. الجماعة


Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Nabi SAW apabila akan tidur sedang beliau junub, beliau membasuh kemaluannya dan berwudlu sebagaimana wudlunya untuk shalat”. [HR. Jama’ah]


5. Orang-orang yang berjunub disunnatkan wudhu' bila hendak mengulangi persetubuhannya

عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ اْلخُدْرِيِّ رض قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ص: اِذَا اَتَى اَحَدُكُمْ اَهْلَهُ ثُمَّ اَرَادَ اَنْ يَعُوْدَ فَلْيَتَوَضَّأْ. الجماعة الا البخارى


Dari Abu Sa’id Al-Khudriy RA, ia berkata : Nabi SAW bersabda, “Apabila seseorang diantara kamu telah mengumpuli istrinya kemudian hendak mengulanginya hendaklah ia berwudlu”. [HR. Jama’ah, kecuali Bukhari]

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ


(bersambung) .....

Bagikan

Jangan lewatkan

Thaharah (13)
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.