Selasa, 14 Juli 2015

Thaharah (14)



6. Bagi orang berjunub, bila hendak makan-minum atau tidur supaya berwudhu

عَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ رض قَالَ: اِنَّ النَّبِيَّ ص رَخَّصَ لِلْجُنُبِ اِذَا اَرَادَ اَنْ يَأْكُلَ اَوْ يَشْرَبَ اَوْ يَنَامَ اَنْ يَتَوَضَّأَ وُضُوْءَهُ لِلصَّلاَةِ. احمد و الترمذى


Dari ‘Ammar bin Yasir RA, ia berkata, “Bahwasanya Nabi SAW membolehkan bagi orang berjunub, apabila hendak makan-minum atau tidur supaya berwudlu sebagaimana wudlu untuk shalat”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi]

عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ ص اِذَا اَرَادَ اَنْ يَأْكُلَ اَوْ يَشْرَبَ اَوْ يَنَامَ وَ هُوَ جُنُبٌ يَغْسِلُ يَدَيْهِ ثُمَّ يَأْكُلُ وَ يَشْرَبُ. احمد و النسائى


Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Nabi SAW apabila hendak makan-minum atau tidur sedang beliau junub, beliau membasuh kedua tangannya, sesudah itu beliau makan dan minum”. [HR. Ahmad dan Nasai]

Bacaan sesudah wudlu



عَنْ عُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَا مِنْكُمْ مِنْ اَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُسْبِغُ اْلوُضُوْءَ ثُمَّ يَقُوْلُ: اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ. اِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ اَبْوَابُ اْلجَنَّةِ الثَّمَانِيَّةُ يَدْخُلُ مِنْ اَيِّهَا شَاءَ. احمد و ابو داود و الترمذى


Dari ‘Umar bin Khaththab RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seseorang diantara kalian yang berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya, lalu membaca [Asyhadu allaa illaaha illaallaah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuuluh] (Aku bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad itu adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya), melainkan dibukakan baginya pintu-pintu surga yang delapan, ia boleh masuk dari pintu manasaja yang ia kehendaki”. [HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi]

Orang yang berhadats boleh membaca/menyentuh Al-Qur’an

قَالَتْ عَائِشَةُ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ اَحْيَانِهِ. مسلم


‘Aisyah RA telah berkata, “Rasulullah SAW selalu menyebut (nama) Allah di setiap waktu”. [HSR Muslim]

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: اَخْبَرَنِى اَبُوْ سُفْيَانَ اَنَّ هِرَقْلَ دَعَا بِكِتَابِ النَّبِيِّ ص فَقَرَأَهُ، فَاِذَا فِيْهِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. يَا اَهْلَ اْلكِتَابِ تَعَالَوْا اِلى كَلِمَةٍ ... البخارى


Ibnu ‘Abbas berkata : Abu Sufyan telah memberitahukan kepada saya, bahwa Heraclius pernah meminta surat yang (dibawa) dari Nabi SAW, kemudian ia membacanya, sedang di situ tertulis “Bismillaahir rahmaanir rahiim. (Dengan nama Allah, yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang), hai orang-orang ahli kitab, marilah kepada agama ..... “. [HR. Bukhari]

اِنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ لَمْ يَرَ بِاْلقِرَاءَةِ لِلْجُنُبِ بَأْسًا. البخارى

Sesungguhnya Ibnu ‘Abbas RA tiada memandang sebagai suatu kesalahan bagi seorang yang sedang berjunub membaca Al-Qur’an. [HR. Bukhari]

اِنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ كَانَ يَقْرَأُ وِرْدَهُ وَ هُوَ جُنُبٌ. ابن المنذى


Sesungguhnya Ibnu ‘Abbas biasa membaca wirid (sebagian dari Al-Qur’an) walaupun ia junub. [HR. Ibnu Mundzir]

قَالَ اْلحَكَمُ: اِنِّى َلاَذْبَحُ وَ اَنَا جُنُبٌ وَ قَالَ اللهُ: وَ لاَ تَأْكُلُوْا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللهِ. البخارى


Hakam (salah seorang shahabat) berkata : Sesungguhnya saya pernah menyembelih (dengan membaca basmalah), padahal saya sedang junub, karena Allah berfirman, “Janganlah kalian memakan (sembelihan) yang tidak disebut nama Allah”. [HR. Bukhari]

Keterangan :

Dari hadits ‘Aisyah RA diatas dengan keumuman lafadhnya, berarti Nabi SAW selalu menyebut nama Allah, baik dalam keadaan suci maupun berhadats besar ataupun kecil.

Shahabat Ibnu ‘Abbas membolehkan orang berjunub membaca Al-Qur’an dan beliau sendiri melakukannya. Riwayat shahabat Hakam yang menyembelih dengan (enyebut) nama Allah, yaitu Bismillah yang merupakan sebagian dari ayat Al-Qur’an, padahal beliau sedang junub. Begitu pula riwayat Abu Sufyan, bahwa seorang penguasa Roma yang beragama Nashrani yang tentu saja tidak mengenal syariat mandi janabat atau wudlu bila berhadats, dia dikirimi surat oleh Nabi SAW dengan menyertakan ayat sebagai materi dakwah kepadanya.

Maka dari seluruh hadits dan riwayat tersebut, bisa diambil kesimpulan, bahwa hukum bagi seseorang yang sedang berhadats besar maupun kecil untuk membaca Al-Qur’an adalah boleh dan tidak dilarang oleh agama.

Tentang wanita haidl atau nifas membaca Al-Qur’an

Tentang wanita haidl atau nifas membaca Al-Qur’an ini, memang ada hadits yang melarangnya, tetapi setelah diselidiki, ternyata hadits itu lemah, hadits itu sebagai berikut :


عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: لاَ يَقْرَإِ اْلجُنُبُ وَ لاَ اْلحَائِضُ شَيْئًا مِنَ اْلقُرْآنِ. ابو داود و الترمذى و ابن ماجه

Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Orang yang berjunub dan wanita yang haidl tidak boleh membaca sesuatu dari Al-Qur’an”. [HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah, Nailul Authar I : 266]

عَنْ جَابِرٍ عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: لاَ يَقْرَإِ اْلحَائِضُ وَ لاَ النُّفَسَآءُ مِنَ اْلقُرْآنِ شَيْئًا. الدارقطنى


Dari Jabir, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Wanita yang sedang haidl dan yang sedang nifas tidak boleh membaca sesuatu dari Al-Qur’an”. [HR. Daruquthni, Nailul Authar I : 267]

Hadits-hadits tersebut adalah lemah dan tidak dapat dipakai sebagai dasar untuk menetapkan hukum, karena pada hadits pertama dalam isnadnya terdapat Ismail bin ‘Iyasy dan dia dilemahkan oleh imam-imam Bukhari, Ahmad dan lain-lain ahli hadits.

Sedang hadits kedua dalam isnadnya terdapat seorang yang bernama Muhammad bin Fadl yang dikenal oleh para ahli hadits sebagai seorang pemalsu hadits yang populair.

Kesimpulan :

Karena tidak ada dasar yang kuat yang melarang wanita yang sedang haidl dan nifas untuk membaca Al-Qur’an, maka hukumnya kembali kepada hukum asal, yaitu boleh.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ


(bersambung) .....

Bagikan

Jangan lewatkan

Thaharah (14)
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.