Minggu, 20 Desember 2015

Shalat Sunnah (1)



Dalil adanya shalat sunnah

عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ اَنَّ اَعْرَابِيًّا جَاءَ اِلىَ رَسُوْلِ اللهِ ص ثَائِرَ الرَّأْسِ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَخْبِرْنِى مَا ذَا فَرَضَ اللهُ عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ؟ فَقَالَ: اَلصَّلَوَاتُ اْلخَمْسُ اِلاَّ اَنْ تَطَوَّعَ  شَيْئًا. البخاري 2: 225
Dari Thalhah bin Ubaidillah, bahwasanya ada seorang Arab gunung yang rambutnya acak-acakan datang kepada Rasulullah SAW, lalu berkata, Ya Rasulullah, beritahukanlah kepadaku, shalat apa yang difardlukan oleh Allah kepadaku ?. Jawab Rasulullah SAW, Shalat lima waktu, kecuali kalau engkau mau shalat sunnah. [HSR. Bukhari juz 2, hal. 225]
Keterangan :

Selain shalat yang lima waktu [Shubuh, Dhuhur, 'Ashar, Maghrib dan 'Isyak], adalah shalat sunnah/tathawwu'.

Sebaiknya dikerjakan di rumah

Nabi SAW bersabda :
فَصَلُّوْا اَيُّهَا النَّاسُ فِى بُيُوْتِكُمْ، فَاِنَّ اَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ اْلمَرْءِ فِى بَيْتِهِ اِلاَّ اْلمَكْتُوْبَةَ. البخارى 1: 178
Shalatlah wahai manusia di rumah-rumah kalian, karena sebaik-baik shalat itu ialah shalat seseorang di rumahnya, kecuali shalat fardlu. [HSR. Bukhari juz 1, hal. 178]

Boleh dikerjakan dengan berdiri, duduk maupun berbaring :

Dari 'Imron bin Hushain, Nabi SAW bersabda :
اِنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ اَفْضَلُ، وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ اَجْرِ اْلقَائِمِ، وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ اَجْرِ اْلقَاعِدِ. البخارى 2: 40
Jika (orang) shalat dengan berdiri, itu adalah yang paling baik/sempurna dan barangsiapa yang shalat dengan duduk, maka baginya setengah dari pahala yang berdiri, dan barangsiapa shalat dengan tiduran maka baginya setengah dari pahala yang duduk". [HSR. Bukhari juz 2, hal. 40]
Keterangan :
Shalat-shalat yang dimaksud dalam hadits ini adalah Shalat Sunnah, bukan shalat wajib,karena shalat wajib tidak boleh dikerjakan dengan duduk atau berbaring/tiduran kecuali ada sebab/udzur yang dibenarkan oleh agama.
Sabda Nabi SAW :
صَلّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ. البخارى 2: 41
Shalatlah dengan berdiri, jika tidak dapat maka shalatlah dengan duduk dan kalau tidak dapat, maka shalatlah dengan berbaring. [HR. Bukhari juz 2, hal. 41]

Shalat-shalat sunnah menurut tuntunan Rasulullah SAW

A. Shalat sunnah rawatib yang muakkadah
Shalat sunnah rowatib ialah shalat sunnah yang dikerjakan sebelum (qobliyah) atau sesudah (ba'diyah) shalat lima waktu.
Sedang yang dimaksud Muakkadah ialah yang sangat ditekankan atau dianjurkan oleh Rasulullah SAW.
Shalat-shalat tersebut adalah :
1. Dua atau empat rakaat sebelum shalat Dhuhur
2. Dua rakaat sesudah shalat Dhuhur
3. Dua rakaat sesudah shalat Maghrib
4. Dua rakaat sesudah shalat 'Isya
5. Dua rakaat sebelum shalat Shubuh.
Dalil-dalil Pelaksanaannya :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رض قَالَ: حَفِظْتُ مِنَ النَّبِيّ ص عَشْرَ رَكَعَاتٍ، رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اْلمَغْرِبِ فِى بَيْتِهِ وَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اْلعِشَاءِ فِى بَيْتِهِ وَ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ. البخارى 2: 54
Dari Ibnu Umar RA, ia berkata, Saya hafal (ingat dengan betul) dari Nabi SAW sepuluh rakaat shalat sunnah; dua rakaat sebelum shalat Dhuhur dan dua rakaat sesudahnya, dan dua rakaat sesudah Maghrib di rumah beliau dan dua rakaat sesudah 'Isya di rumah pula dan juga dua rakaat sebelum shalat Shubuh’”. [HSR. Bukhari juz 2, hal. 54]
عَنْ عَائِشَةَ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ لاَ يَدَعُ اَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ اْلغَدَاةِ. البخارى 2: 54
Dari 'Aisyah RA bahwa Nabi SAW tidak meninggalkan empat rakaat sebelum shalat Dhuhur dan dua rakaat sebelum Shubuh. [HSR. Bukhari juz 2, hal. 54]
عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ص عَلَى شَيْئٍ مِنَ النَّوَافِلِ اَشَدَّ تَعَاهُدًا مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيِ اْلفَجْرِ. البخارى 2: 52
Dari Aisyah RA, ia berkata, Tidak ada Nabi SAW memperhatikan shalat-shalat Sunnah lebih dari pada dua rakaat Fajar. [HSR. Bukhari juz 2, hal. 52]
عَنْ حَفْصَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا طَلَعَ اْلفَجْرُ  لاَ يُصَلّى اِلاَّ رَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ. مسلم 1: 500
Dari Hafshah, ia berkata, Adalah Rasulullah SAW apabila terbit Fajar, beliau tidak shalat melainkan dua rakaat yang ringan. [HR Muslim juz 1, hal. 500]
Keutamaan shalat sunnah rawatib dan shalat sunnah fajar
عَنْ اُمّ حَبِيْبَةَ زَوْجِ النَّبِيّ ص اَنَّهَا قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلّى ِللهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيْضَةٍ اِلاَّ بَنَي اللهُ لَهُ بَيْتًا فِى اْلجَنَّةِ اَوْ اِلاَّ بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِى اْلجَنَّةِ. مسلم 1: 503
Dari Ummu Habibah istri Nabi SAW, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, Tiada orang Muslim yang setiap hari shalat  Sunnah dua belas rakaat karena Allah, melainkan Allah akan membuatkan baginya rumah di surga atau dibuatkan rumah baginya di surga. [HR. Muslim juz 1, hal. 503]
عَنْ عَائِشَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: رَكْعَتَا اْلفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَ مَا فِيْهَا. مسلم 1: 501
Dari Aisyah RA dari Nabi SAW beliau bersabda, Dua rakaat Fajar itu lebih baik dari pada dunia seisinya. [HR. Muslim juz 1, hal. 501]
Dan masih banyak lagi hadits-hadits dan riwayat-riwayat lain yang semakna.

Bagikan

Jangan lewatkan

Shalat Sunnah (1)
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.