
G. Shalat sunnah Dluha
Shalat sunnah Dluha ialah : Isthilah yang diberikan untuk shalat
sunnah yang dikerjakan pada waktu Dluha.
Bilangan raka'at dan cara
pelaksanaannya :
- Dua raka'at hingga delapan raka'at (dua
raka'at lalu salam, dua raka'at lalu salam dan seterusnya)
- Dengan suara sirr (suara lembut).
Dalil-dalil pelaksanaan :
قَالَ
اَبُوْ هُرَيْرَةَ: اَوْصَانِى خَلِيْلِى ص بِثَلاَثٍ: صِيَامِ ثَلاَثَةِ اَيَّامٍ
مِنْ كُلّ شَهْرٍ وَ رَكْعَتَيِ الضُّحَى وَ اَنْ اُوْتِرَ قَبْلَ اَنْ
اَنَامَ. البخارى 2: 247
Telah berkata Abu
Hurairah, “Kekasih
saya (Nabi Muhammad SAW) telah berwashiyat kepada saya dengan tiga perkara yaitu
: 1. Puasa tiga hari tiap-tiap bulan. 2. Shalat Dluha dua raka'at, dan 3. Shalat
witir sebelum tidur”.
[HSR. Bukhari juz 2, hal. 247]
عَنْ
مُعَاذَةَ اَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشةَ رض: كَمْ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُصَلّى
صَلاَةَ الضُّحَى؟ قَالَتْ: اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَ يَزِيْدُ مَا شَآءَ. مسلم 1: 497
Dari Mu’adzah
bahwasanya ia bertanya kepada ‘Aisyah
RA, “Berapa
raka’at
Rasulullah SAW shalat dluha ?”.
Jawab Aisyah, “Empat
raka'at dan kadang-kadang beliau menambah dengan beberapa yang beliau
kehendaki”.
[HSR. Muslim juz 1, hal. 497]
عَنْ
عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ اَبِى لَيْلَى قَالَ: مَا اَخْبَرَنِى اَحَدٌ اَنَّهُ رَأَى
النَّبِيَّ ص يُصَلّى الضُّحَى اِلاَّ اُمُّ هَانِئٍ فَاِنَّهَا حَدَّثَتْ: اَنَّ
النَّبِيَّ ص دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ. فصَلَّى ثَمَانِيَ
رَكَعَاتٍ، مَا رَأَيْتُهُ صَلَّى صَلاَةً قَطُّ اَخَفَّ مِنْهَا غَيْرَ اَنَّهُ
كَانَ يُتِمُّ الرُّكُوْعَ وَ السُّجُوْدَ. مسلم 1: 497
Dari ‘Abdur
Rahman bin Abu
Laila, ia berkata : Tidak ada seseorang yang
mengkhabarkan kepadaku bahwa ia melihat Nabi SAW shalat Dluha kecuali Ummu
Hani’.
Sesungguhnya ia berkata, “Bahwasanya
Nabi SAW masuk ke rumahnya pada waktu Fathu Makkah, kemudian beliau shalat Dluha
delapan raka'at, saya tidak pernah melihat beliau shalat yang lebih ringan dari
pada itu, namun beliau tetap menyempurnakan ruku’
dan sujudnya”.
[HR. Muslim juz 1, hal. 497]
عَنْ اَبِى ذَرّ عَنِ النَّبِيّ ص اَنَّهُ قَالَ: يُصْبِحُ عَلَى كُلّ
سُلاَمَى مِنْ اَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ. فَكُلُّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةٌ وَ كُلُّ
تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةٌ وَ كُلُّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ وَ كُلُّ تَكْبِيْرَةٍ
صَدَقَةٌ وَ اَمْرٌ بِاْلمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ وَ نَهْيٌ عَنِ اْلمُنْكَرِ صَدَقَةٌ
وَ يُجْزِئُ مِنْ ذلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحى. مسلم 1: 498
Dari Abu Dzarr, dari Nabi
SAW, bahwasanya beliau bersabda, “Setiap
pagi, tiap-tiap ruas sendi seseorang diantara kalian ada sadaqahnya. Maka setiap
tasbih itu sadaqah, setiap tahmid itu sadaqah, setiap tahlil itu sadaqah dan
setiap takbir itu sadaqah, amar ma’ruf
itu sadaqah, nahi munkar itu sadaqah, dan mencukupi yang demikian itu dengan
shalat Dluha dua rekaat”.
[HR. Muslim juz 1, hal. 498]
عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: فِى
اْلاِنْسَانِ سِتُّوْنَ وَ ثَلاَثُمِائَةِ مِفْصَلٍ، فَعَلَيْهِ اَنْ يَتَصَدَّقَ
عَنْ كُلّ مِفْصَلٍ مِنْهَا صَدَقَةً. قَالُوْا: فَمَنِ الَّذِى يُطِيْقُ ذلِكَ يَا
رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: اَلنَّخَاعَةُ فِى اْلمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا اَوِ الشَّيْءُ
تُنَحّيْهِ عَنِ الطَّرِيْقِ، فَاِنْ لَمْ تَقْدِرْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُ
عَنْكَ. احمد 9: 20، رقم: 23059
Dari Buraidah, ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda, “Dalam diri manusia itu ada 360 persendian,
yang ia harus bersadaqah untuk tiap-tiap persendian itu”. Para shahabat bertanya, “Lalu siapa orang yang mampu mengerjakan yang
demikian itu, ya Rasulullah ?”. Beliau bersabda, “Engkau menanam dahak yang berada di masjid
(itu merupakan sadaqah), atau engkau menyingkirkan gangguan yang ada di jalan
(itu merupakan sadaqah), jika kamu tidak mampu, maka mengerjakan shalat Dluha
dua rekaat itu mencukupi bagimu”. [HR. Ahmad juz
9, hal. 20, no. 23059]
عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ:
مَنْ صَلَّى الضُّحَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللهُ لَهُ قَصْرًا مِنْ
ذَهَبٍ فِى اْلجَنَّةِ. ابن ماجه 1: 439، ضعيف لانه فى اسناده موسى بن انس هو
مجهول
Dari Anas bin Malik, ia berkata : Saya
mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang shalat Dluha dua belas
rekaat, Allah akan membangunkan untuknya istana emas di surga”. [HR. Ibnu
Majah juz 1, hal. 439, dla’if karena dalam
sanadnya ada perawi bernama Musa bin Anas, ia majhul]
Keterangan
:
Hadits yang
menerangkan shalat Dluha 12 rekaat ini dla’if, maka tidak
bisa diamalkan.
H. Shalat sunnah Thahur
Shalat sunnah Thahur ialah shalat sunnah dua raka'at yang
dikerjakan sehabis wudlu, dan dengan sirr (tidak nyaring).
عَنْ اَبِى
هُرَيْرَةَ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ لِبِلاَلٍ عِنْدَ صَلاَةِ اْلفَجْرِ: يَا
بِلاَلُ حَدّثْنِى بِاَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِى اْلاِسْلاَمِ. فَاِنّى سَمِعْتُ
دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِى اْلجَنَّةِ. قَالَ: مَا عَمِلْتُ عَمَلاً
اَرْجَى عِنْدِى اَنّى لَمْ اَتَطَهَّرْ طُهُوْرًا فِى سَاعَةِ لَيْلٍ اَوْ نَهَارٍ
اِلاَّ صَلَّيْتُ بِذلِكَ الطُّهُوْرِ مَا كُتِبَ لِيْ اَنْ اُصَلّىَ. البخارى
2: 48
Dari Abu Hurairah RA,
bahwasanya Nabi SAW bersabda kepada Bilal ketika selesai shalat Shubuh, "Wahai
Bilal, ceritakanlah kepadaku amalan yang paling besar dan memberi harapan yang
telah kamu kerjakan di dalam Islam. Karena aku mendengar suara sandalmu di
hadapanku di dalam surga". Bilal menjawab, "Tak ada suatu amal yang banyak
memberikan harapan selain daripada aku tidak berwudlu dengan sesuatu wudlu, baik
di waktu malam maupun siang, melainkan aku mengerjakan shalat dengan wudlu itu
dengan shalat yang ditetapkan untukku (yaitu dua raka'at sunnah Thahur)".
[HR. Bukhari juz 2, hal. 48].
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص لِبِلاَلٍ عِنْدَ
صَلاَةِ اْلغَدَاةِ: يَا بِلاَلُ، حَدّثْنِى بِاَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ عِنْدَكَ
فِى اْلاِسْلاَمِ مَنْفَعَةً. فَاِنّى سَمِعْتُ اللَّيْلَةَ خَشْفَ نَعْلَيْكَ
بَيْنَ يَدَيَّ فِى اْلجَنَّةِ. قَالَ بِلاَلٌ: مَا عَمِلْتُ عَمَلاً فِى
اْلاِسْلاَمِ اَرْجَى عِنْدِى مَنْفَعَةً مِنْ اَنّى لاَ اَتَطَهَّرُ طُهُوْرًا
تَامًّا فِى سَعَةٍ مِنْ لَيْلٍ وَ لاَ نَهَارٍ اِلاَّ صَلَّيْتُ بِذلِكَ
الطُّهُوْرِ مَا كَتَبَ اللهُ لِى اَنْ اُصَلّيَ. مسلم 4: 1910
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda
kepada Bilal ketika selesai shalat Shubuh, “Hai
Bilal, ceritakanlah kepadaku amalan yang paling besar manfaatnya dan memberi
harapan yang telah kamu kerjakan di dalam Islam. Karena tadi malam (aku
bermimpi) mendengar suara sandalmu di hadapanku di surga”.
Bilal menjawab, “Tidak
ada suatu amal yang banyak memberikan manfaat dan harapan di dalam Islam selain
daripada aku tidak wudlu dengan wudlu yang sempurna di waktu malam maupun siang
melainkan aku mengerjakan shalat dengan wudlu itu dengan shalat yang Allah
tetapkan untukku (yaitu 2 rekaat shalat sunnah thahur)”.
[HR.Muslim juz 4, hal. 1910]
Bagikan
Shalat Sunnah (5)
4/
5
Oleh
Fatima
