
I. Shalat sunnah Istikharah.
Shalat sunnah Istikharah ialah shalat sunnah yang dilakukan
ketika hendak mengerjakan sesuatu pekerjaan yang penting untuk memohon petunjuk
ke arah kebaikan. Boleh dikerjakan pagi, siang, maupun malam
Shalat istikharah ini 2 raka'at dan dengan dibaca sirr (suara
lembut).
Dalil pelaksanaannya :
عَنْ
جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُعَلّمُنَا
اْلاِسْتِخَارَةَ فِى اْلاُمُوْرِ كَمَا يُعَلّمُنَا السُّوْرَةَ مِنَ اْلقُرْانِ
يَقُوْلُ: اِذَا هَمَّ اَحَدُكُمْ بِاْلاَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ
غَيْرِ اْلفَرِيْضَةِ ثُمَّ لْيَقُلْ: اَللّهُمَّ اِنّى اَسْتَخِيْرُكَ ... قَالَ
وَ يُسَمّى حَاجَتَهُ. البخارى
2: 51
Dari Jabir bin ‘Abdullah,
ia berkata : Rasulullah SAW pernah mengajarkan kepada kami istikharah dalam
urusan-urusan penting sebagaimana beliau mengajarkan Al-Qur'an kepada kami.
Beliau bersabda, "Apabila seseorang diantara kalian akan mengerjakan suatu
perkara hendaklah ia shalat 2 raka'at yang bukan shalat fardlu, kemudian
hendaklah berdoa "Alloohumma innii astakhiiruka ..... dst" dan hendaklah ia
sebutkan hajatnya". [HR. Bukhari 2 : 51]
Doa tersebut sebagai berikut :
اَللّهُمَّ
اِنّى اَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ وَ اَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَ اَسْأَلُكَ
مِنْ فَضْلِكَ اْلعَظِيْمِ. فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ اَقْدِرُ وَ تَعْلَمُ وَلاَ
اَعْلَمُ. وَ اَنْتَ عَلاَّمُ اْلغُيُوْبِ. اَللّهُمَّ اِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ اَنَّ
هذَا اْلاَمْرَ خَيْرٌ لِى فِى دِيْنِى وَ مَعَاشِى وَ عَاقِبَةِ اَمْرِى (اَوْ
قَالَ عَاجِلِ اَمْرِى وَ آجِلِهِ) فَاقْدُرْهُ لِى وَ يَسّرْهُ لِى، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيْهِ. وَ اِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ
اَنَّ هذَا اْلاَمْرَ شَرٌّ لِى فِى دِيْنِى وَ مَعَاشِى وَ عَاقِبَةِ اَمْرِى
(اَوْ قَالَ عَاجِلِ اَمْرِى وَ آجِلِهِ) فَاصْرِفْهُ عَنّى وَ اصْرِفْنِى عَنْهُ
وَ اقْدُرْلِيَ اْلخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ اَرْضِنِى بِهِ.
البخارى 2: 51
Ya Allah, sesungguhnya
aku mohon Engkau pilihkan yang baik dengan pengetahuan-Mu, aku mohon Engkau
memberi kekuatan dengan kekuasaan-Mu, dan aku mohon karunia-Mu yang agung,
karena sesungguhnya Engkau berkuasa sedang aku tidak berkuasa, dan Engkau
mengetahui, sedangkan aku tidak mengetahui. Engkau yang amat mengetahui
perkara-perkara yang ghaib. Ya Allah, kalau Engkau ketahui bahwa perkara ini
baik bagiku, agamaku, penghidupanku dan hari penghabisanku, (atau beliau
mengatakan “baik
cepat maupun lambat”)
maka berikanlah dia kepadaku dan mudahkanlah (urusannya) untukku dan berkahilah
aku dengannya. Dan jika memang Engkau ketahui bahwa perkara ini tidak baik
bagiku, bagi agamaku, penghidupanku dan hari penghabisanku, (atau beliau
mengatakan “baik
cepat maupun lambat”),
maka jauhkanlah dia dariku dan jauhkanlah aku darinya. Dan berikanlah kepadaku
kebaikan itu walau dimanapun adanya, serta jadikanlah aku orang yang ridla akan
(pemberian) itu". [HSR. Bukhari 2 : 51].
J. Shalat sunnah Tasbih
عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ
لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ اْلمُطَّلِبِ: يَا عَبَّاسُ، يَا عَمَّاهُ، اَلاَ
اُعْطِيْكَ، اَلاَ اَمْنَحُكَ، اَلاَ اَحْبُوْكَ، اَلاَ اَفْعَلُ بِكَ عَشْرَ
خِصَالٍ. اِذَا اَنْتَ فَعَلْتَ ذلِكَ غَفَرَ اللهُ لَكَ ذَنْبَكَ اَوَّلَهُ وَ
آخِرَهُ، قَدِيْمَهُ وَ حَدِيْثَهُ، خَطْأَهُ وَ عَمْدَهُ، صَغِيْرَهُ وَ
كَبِيْرَهُ، سِرَّهُ وَ عَلاَنِيَتَهُ. عَشْرَ خِصَالٍ: اَنْ تُصَلّيَ اَرْبَعَ
رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِى كُلّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ اْلكِتَابِ وَ سُوْرَةً. فَاِذَا
فَرَغْتَ مِنَ اْلقِرَاءَةِ فِى اَوَّلِ رَكْعَةٍ وَ اَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ:
سُبْحَانَ اللهِ وَ اْلحَمْدُ ِللهِ وَ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَ اللهُ
اَكْبَرُ، خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً. ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُوْلُهَا وَ اَنْتَ
رَاكِعٌ عَشْرًا. ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوْعِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا.
ثُمَّ تَهْوِى سَاجِدًا فَتَقُوْلُهَا وَ اَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا. ثُمَّ تَرْفَعُ
رَأْسَكَ مِنَ السُّجُوْدِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا. ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُوْلُهَا
عَشْرًا. ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا. فَذلِكَ خَمْسٌ وَ
سَبْعُوْنَ فِى كُلّ رَكْعَةٍ. تَفْعَلُ ذلِكَ فِى اَرْبَعِ رَكَعَاتٍ. اِنِ
اسْتَطَعْتَ اَنْ تُصَلّيَهَا فِى كُلّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ، فَاِنْ لَمْ
تَفْعَلْ فَفِى كُلّ جُمُعَةٍ مَرَّةً، فَاِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلّ شَهْرٍ
مَرَّةً. فَاِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلّ سَنَةٍ مَرَّةً فَاِنْ لَمْ تَفْعَلْ
فَفِى عُمُرِكَ مَرَّةً. ابو داود 2: 29، رقم: 1297
Dari ‘Ikrimah,
dari Ibnu ‘Abbas,
bahwasanya Rasulullah SAW bersabda kepada ‘Abbas
bin ‘Abdul
Muththalib, “Ya
‘Abbas,
ya paman, maukah kamu aku beri, maukah kamu aku kasih, maukah kamu aku beri
hadiah, maukah kamu aku beri sepuluh hal ?. Jika engkau melakukannya, maka Allah
mengampuni dosa-dosamu yang awwal maupun yang akhir, yang lama maupun yang baru,
yang tidak disengaja maupun yang disengaja, yang besar maupun yang kecil, yang
tersembunyi maupun yang terang-terangan. Sepuluh hal itu adalah engkau shalat
empat rekaat, engkau baca pada tiap-tiap rekaat dengan Al-Fatihah kemudian
surat. Apabila telah
selesai membaca pada awwal rekaat, lalu engkau membaca dalam keadaan berdiri,
“Subhaanallooh,
wal hamdu lillaah, walaa ilaaha illallooh, walloohu akbar“
(Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, dan
Allah Maha Besar), sebanyak
lima belas kali.
Kemudian kamu ruku’
dan membacanya dalam keadaan ruku’
sepuluh kali. Lalu kamu mengangkat kepala (i’tidal)
dan membacanya sepuluh kali. Lalu kamu sujud dan membacanya dalam sujud sepuluh
kali. Lalu kamu duduk antara dua sujud dan membacanya sepuluh kali. Lalu kamu
sujud dan membacanya dalam sujud sepuluh kali. Lalu kamu bangun dari sujud dan
membacanya sepuluh kali, yang demikian itu berarti berjumlah tujuh puluh
lima kali pada setiap
rekaat. Kamu lakukan yang demikian itu dalam empat rekaat. Jika kamu mampu
melakukannya setiap hari sekali maka lakukanlah, jika tidak mampu maka pada
setiap jum’at
sekali, apabila tidak mampu maka sebulan sekali dan jika tidak mampu maka
setahun sekali, dan jika tidak mampu maka dalam seumur hidup sekali. [Abu
Dawud juz 2, hal. 29, no. 1297]
Keterangan :
Tentang shalat Tasbih ini memang ada beberapa riwayat, adapun
yang paling kuat adalah riwayat di atas, yaitu dari ‘Ikrimah
dari Ibnu ‘Abbas.
Mengenai sanad hadits tersebut ada seorang perawi yang dipermasalahkan, yakni
Musa bin ‘Abdul
‘Aziz.
Mengenai Musa bin ‘Abdul
‘Aziz
ini Abul Fadl As-Sulaimani mengatakan : ia munkarul hadits. ‘Ali
bin Madini mengatakan : Ia dlaif. Namun Nasai mengatakan : Laisa bihi
ba’sun
(ia tidak mengapa), Yahya bin Ma’in
mengatakan : Laa araa bihi ba’san
(saya memandang ia tidak mengapa). [Lihat Mizaanul i’tidal
juz 4, hal. 212, no. 8893]
Kesimpulan :
Hadits mengenai shalat tasbih ini tentang keshahihannya masih
diperselisihkan, sehingga ada ulama’
yang mau menerima hadits tersebut, dan ada pula yang tidak mau menerimanya,
walloohu a’lam.
Bagikan
Shalat Sunnah (6)
4/
5
Oleh
Fatima
