
Segala puji hanya bagi Allah, Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, Sahabat dan seluruh pengikutnya yang selalu mengikuti jalan petunjuk-Nya. Amien
Dalam hadits diriwayatkan : Rasulullah SAW bersabda,
عَنِ
ابْنِ عُمَرَ رض اَنَّ رَسُوْلَ للهِ ص قَالَ: لَا يَنْظُرُ اللهُ اِلىَ مَنْ جَرَّ
ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ.
البخارى 7: 33
Dari
Ibnu ‘Umar RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Allah tidak akan melihat
kepada orang yang menyeret pakaiannya karena sombong”.
[HR. Bukhari juz 7, hal. 33]
عَنْ
اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لَا يَنْظُرُ اللهُ يَوْمَ
اْلقِيَامَةِ اِلَى مَنْ جَرَّ اِزَارَهُ بَطَرًا.
البخارى 7: 34
Dari
Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Pada hari qiyamat Allah tidak
akan melihat kepada orang yang menyeret izaarnya karena
sombong”.
[HR. Bukhari juz 7, hal. 34]
عَنْ
عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ
مَخِيْلَةً لَمْ يَنْظُرِ اللهُ اِلَيْهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ.
البخارى 7: 35
Dari
‘Abdullah bin ‘Umar RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang
menyeret pakaiannya karena kesombongan, Allah tidak akan melihat kepadanya pada
hari qiyamat”.
[HR. Bukhari juz 7, hal. 35]
عَنِ
ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ مِنَ
اْلخُيَلَاءِ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ اِلَيْهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ.
مسلم 3: 1652
Dari
Ibnu ‘Umar, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menyeret
pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari
qiyamat”.
[HR. Muslim juz 3, hal. 1652]
عَنِ
ابْنِ عُمَرَ اَنَّهُ رَاَى رَجُلًا يَجُرُّ اِزَارَهُ، فَقَالَ: مِمَّنْ اَنْتَ؟
فَانْتَسَبَ لَهُ. فَاِذًا رَجُلٌ مِنْ بَنِى لَيْثٍ. فَعَرَفَهُ ابْنُ عُمَرَ.
قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص بِاُذُنَيَّ هَاتَيْنِ يَقُوْلُ: مَنْ جَرَّ
اِزَارَهُ لَا يُرِيْدُ بِذ?لِكَ
اِلَّا الْمَخِيْلَةَ فَاِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ اِلَيْهِ يَوْمَ
اْلقِيَامَةِ.
مسلم 3: 1652
Dari
Ibnu ‘Umar, bahwasanya ia melihat seorang laki-laki yang menyeret izaarnya, lalu
ia bertanya, “Dari suku manakah engkau ?”. Maka orang tersebut menyebutkan
nasabnya. Ternyata dia seseorang dari bani Laits. Maka Ibnu ‘Umar pun
mengenalnya. Ibnu ‘Umar berkata, “Aku mendengar dengan dua telingaku ini bahwa
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menyeret izaarnya, ia tidak
menghendaki dengan demikian itu melainkan kesombongan, maka sesungguhnya pada
hari qiyamat Allah tidak akan melihatnya”.
[HR. Muslim juz 3, hal. 1652]
عَنْ
اَبِى هُرَيْرَةَ رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: مَا اَسْفَلَ مِنَ اْلكَعْبَيْنِ مِنَ
اْلاِزَارِ فَفِى النَّارِ.
البخارى 7: 34
Dari
Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Kain izaar yang berada di
bawah mata kaki, adalah bagian dari api neraka”.
[HR. Bukhari]
عَنْ
اَبِى ذَرّ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ
اْلقِيَامَةِ وَ لَا يَنْظُرُ اِلَيْهِمْ وَ لَا يُزَكّيْهِمْ وَ لَهُمْ عَذَابٌ
اَلِيْمٌ، قَالَ: فَقَرَأَهَا رَسُوْلُ اللهِ ص ثَلَاثَ مِرَارٍ. قَالَ اَبُوْ
ذَرّ: خَابُوْا وَ خَسِرُوْا، مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: اَلْمُسْبِلُ
وَ الْمَنَّانُ وَ الْمُنَفّقُ سِلْعَتَهُ بِاْلحَلِفِ اْلكَاذِبِ.
مسلم 1: 102
Dari
Abu Dzarr, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Ada tiga golongan yang kelak pada
hari qiyamat Allah tidak akan mengajak bicara mereka, Allah tidak akan melihat
mereka, tidak akan membersihkan (mengampuni dosa) mereka dan bagi mereka akan
mendapat siksa yang pedih”. Rasulullah SAW bersabda demikian tiga kali. Kemudian
Abu Dzarr berkata, “Sungguh menyesal dan rugi mereka itu. Siapakah mereka itu ya
Rasulullah ?”. Beliau menjawab, “Yaitu orang yang menurunkan kain izaarnya,
orang yang suka mengundat-undat pemberiannya dan orang yang menjual barang
dagangannya dengan menggunakan sumpah palsu”.
[HR. Muslim juz 1, hal. 102]
عَنْ
اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: بَيْنَمَا رَجُلٌ يُصَلّى مُسْبِلًا اِزَارَهُ، فَقَالَ
لَهُ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذْهَبْ فَتَوَضَّأْ. فَذَهَبَ فَتَوَضَّأَ، ثُمَّ جَاءَ.
ثُمَّ قَالَ: اِذْهَبْ فَتَوَضَّأْ. فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا
لَكَ اَمَرْتَهُ اَنْ يَتَوَضَّأَ ثُمَّ سَكَتَ عَنْهُ؟ قَالَ: اِنَّهُ كَانَ
يُصَلّى وَ هُوَ مُسْبِلٌ اِزَارَهُ، وَ اِنَّ اللهَ لَا يَقْبَلُ صَلَاةَ رَجُلٍ
مُسْبِلٍ.
ابو داود 4: 57، رقم: 4086
Dari
Abu Hurairah, ia berkata : Pada suatu waktu ada seseorang shalat dengan kain
izaarnya sampai di bawah mata kaki, maka Rasulullah SAW bersabda, “Pergilah dan
berwudlulah !”. Ia pun pergi dan berwudlu, kemudian ia datang. Kemudian beliau
SAW bersabda kepadanya, “Pergilah dan berwudlulah !”. Maka ada seseorang
bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa engkau menyuruh orang itu melakukan wudlu,
kemudian engkau diamkan ?”. Beliau bersabda, “Karena ia shalat dengan memakai
kain izaarnya sampai di bawah mata kaki. Sesungguhnya Allah tidak akan menerima
shalat seseorang yang memakai kain izaarnya sampai di bawah mata
kaki”.
[HR. Abu Dawud juz 4, hal. 57 no. 4086]
عَنِ
ابْنِ عُمَرَ قَالَ: مَرَرْتُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ ص وَ فِى اِزَارِى
اِسْتِرْخَاءٌ، فَقَالَ: يَا عَبْدَ اللهِ، اِرْفَعْ اِزَارَكَ. فَرَفَعْتُهُ،
ثُمَّ قَالَ: زِدْ. فَزِدْتُ. فَمَا زِلْتُ اَتَحَرَّاهَا بَعْدُ. فَقَالَ بَعْضُ
اْلقَوْمِ: اِلَى اَيْنَ؟ فَقَالَ: اَنْصَافِ السَّاقَيْنِ.
مسلم 3: 1653
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Aku pernah lewat di hadapan Rasulullah
SAW, ketika itu kain izaar saya turun. Lalu beliau SAW bersabda, “Hai ‘Abdullah,
naikkanlah kain izaarmu”. Lalu aku menaikkannya. Kemudian beliau bersabda lagi,
“Naikkan lagi !”. Lalu aku menaikkannya lagi. Kemudian aku selalu menjaga yang
demikian sesudah itu. Sebagian kaum ada yang bertanya (kepada Ibnu ‘Umar),
“Sampai dimana (menaikkannya) ?”. Ibnu ‘Umar menjawab, “Pertengahan
betis”. [HR. Muslim juz 3, hal. 1653]
عَنْ
اَبِى سَعِيْدٍ اْلخُدْرِيّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِزْرَةُ الْمُسْلِمِ
اِلَى نِصْفِ السَّاقِ وَ لَا حَرَجَ اَوْ لَا جُنَاحَ فِيْمَا بَيْنَهُ وَ بَيْنَ
اْلكَعْبَيْنِ. مَا كَانَ اَسْفَلَ مِنَ اْلكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِى النَّارِ. مَنْ
جَرَّ اِزَارَهُ بَطَرًا لَمْ يَنْظُرِ اللهُ اِلَيْهِ.
ابو داود 4: 59، رقم: 4093
Dari
Abu Sa’id Al-Khudriy, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Kain izaar seorang
muslim adalah sampai pertengahan betis. Dan tidak mengapa atau tidaklah berdosa
jika sampai pada diantara betis dan kedua mata kaki. Sedangkan yang sampai di
bawah mata kaki itu adalah bagian neraka. Dan barangsiapa yang menyeret kain
izaarnya karena sombong, maka kelak Allah tidak akan melihat
kepadanya”.
[HR. Abu Dawud juz 4, hal. 59, no. 4093]
عَنْ
اَبِى جُرَيّ جَابِرِ بْنِ سُلَيْمٍ قَالَ: رَاَيْتُ رَجُلًا يَصْدُرُ النَّاسُ
عَنْ رَأْيِهِ، لَا يَقُوْلُ شَيْئًا اِلَّا صَدَرُوْا عَنْهُ. قُلْتُ: مَنْ
ه?ذَا؟
قَالُوْا: ه?ذَا
رَسُوْلُ اللهِ ص. قُلْتُ: عَلَيْكَ السَّلَامُ يَا رَسُوْلَ اللهِ (مَرَّتَيْنِ).
قَالَ: لَا تَقُلْ عَلَيْكَ السَّلَامُ، فَاِنَّ عَلَيْكَ السَّلَامُ تَحِيَّةُ
الْمَيّتِ. قُلْ اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ. قَالَ: قُلْتُ: اَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ؟
قَالَ: اَنَا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِى اِذَا اَصَابَكَ ضُرٌّ فَدَعَوْتَهُ كَشَفَهُ
عَنْكَ. وَ اِذَا اَصَابَكَ عَامُ سَنَةٍ فَدَعَوْتَهُ اَنْبَتَهَا لَكَ. وَ اِذَا
كُنْتَ بِاَرْضٍ قَفْرَاءَ اَوْ فَلَاةٍ فَضَلَّتْ رَاحِلَتُكَ فَدَعَوْتَهُ
رَدَّهَا عَلَيْكَ. قُلْتُ: اِعْهَدْ اِلَيَّ. قَالَ: لَا تَسُبَّنَّ اَحَدًا.
قَالَ: فَمَا سَبَبْتُ بَعْدَهُ حُرًّا وَ لَا عَبْدًا وَ لَا بَعِيْرًا وَ لَا
شَاةً. قَالَ: وَ لَا تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوْفِ، وَ اَنْ تُكَلّمَ
اَخَاكَ وَ اَنْتَ مُنْبَسِطٌ اِلَيْهِ وَجْهُكَ اِنَّ ذ?لِكَ
مِنَ الْمَعْرُوْفِ، وَ ارْفَعْ اِزَارَكَ اِلىَ نِصْفِ السَّاقِ، فَاِنْ اَبَيْتَ
فَاِلَى اْلكَعْبَيْنِ، وَ اِيَّاكَ وَ اِسْبَالَ اْلاِزَارِ فِاِنَّهَا مِنَ
الْمَخِيْلَةِ، وَ اِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْمَخِيْلَةَ. وَ اِنِ امْرُءٌ
شَتَمَكَ وَ عَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيْكَ فَلَا تُعَيّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ
فِيْهِ. فِاِنَّمَا وَبَالُ ذ?لِكَ
عَلَيْهِ.
ابو داود 4: 56، رقم: 4084
Dari
Abu Juraiy (Jabir bin Sulaim), ia berkata : Saya melihat seseorang yang
pendapatnya selalu diikuti oleh orang banyak. Apapun yang dikatakannya pasti
diikuti mereka. Saya bertanya, “Siapakah orang itu ?”. Para shahabat menjawab,
“Itu adalah Rasulullah SAW”. Saya mengucapkan salam, “ ‘Alaikas salaam ya
Rasuulallooh”, aku mengucapkan dua kali. Maka beliau bersabda, “Janganlah kamu
mengucapkan ‘Alaikas salaam, karena ucapan ‘Alaikas salaam itu salam untuk orang
yang sudah meninggal, tetapi ucapkanlah Assalaamu ‘alaika". Aku bertanya,
“Benarkah engkau utusan Allah ?”. Beliau menjawab, “Ya aku adalah utusan Allah,
Tuhan yang apabila kamu tertimpa suatu mushibah, kemudian kamu berdoa
kepada-Nya, niscaya Dia akan menghilangkan mushibah yang menimpa kamu. Apabila
kamu tertimpa kemarau panjang (kelaparan), kemudian kamu berdoa kepada-Nya,
niscaya Dia akan segera menumbuhkan tanaman untukmu. Apabila kamu berada di
tengah gurun pasir atau tanah lapang, kemudian kendaraanmu atau ternakmu hilang,
lalu kamu berdoa kepada-Nya, niscaya Dia akan mengembalikannya kepadamu”. Aku
berkata, “Berilah nasehat kepadaku”. Beliau bersabda, “Janganlah sekali-kali
kamu memaki seseorang”. Jabir berkata, “Maka setelah itu aku tidak pernah memaki
orang merdeka, budak, unta ataupun kambing”. Beliau juga bersabda, “Janganlah
sekali-kali kamu meremehkan sesuatu kebaikan, dan berkatalah kepada temanmu
dengan wajah yang manis. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk kebaikan. Dan
tinggikanlah kain izaarmu sampai pada pertengahan betis, dan kalau kamu enggan,
maka boleh sampai pada kedua mata kaki. Janganlah kamu menurunkan kain izaar itu
melebihi mata kaki, karena hal itu termasuk perbuatan sombong. Dan sesungguhnya
Allah tidak menyukai kesombongan.
Dan apabila ada orang memaki dan mencela kamu dengan apa yang dia ketahui
tentang dirimu, maka janganlah kamu mencelanya dengan apa yang kamu ketahui
tentang cela dirinya, karena (jika kamu tidak membalasnya) sesungguhnya akibat
dari celaan itu akan kembali kepadanya”.
[HR. Abu Dawud juz 4, hal. 56, no. 4084]
عَنْ
سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ عَنْ اَبِيْهِ رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: مَنْ جَرَّ
ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ اِلَيْهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ. قَالَ
اَبُوْ بَكْرٍ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنَّ اَحَدَ شِقَّيْ اِزَارِى يَسْتَرْخِى
اِلَّا اَنْ اَتَعَاهَدَ ذ?لِكَ
مِنْهُ. فَقَالَ النَّبِيُّ ص: لَسْتَ مِمَّنْ يَصْنَعُهُ خُيَلَاءَ.
البخارى 7: 34
Dari
Salim bin ‘Abdullah, dari bapaknya RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda,
“Barangsiapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, maka pada hari qiyamat
nanti Allah tidak akan melihatnya”. Abu Bakar berkata, “Ya Rasulullah,
sesungguhnya kain izaar saya selalu turun sampai di bawah mata kaki, kecuali
apabila saya sangat berhati-hati”. Rasulullah SAW bersabda kepadanya,
“Sesungguhnya kamu tidaklah termasuk orang yang melakukannya karena
sombong”.
[HR. Bukhari juz 7, hal. 34]
Keterangan
:
Dari
hadits-hadits di atas bisa kita fahami bahwa yang dilarang itu adalah melabuhkan
izaar karena sombong. Adapun kalau tidak sombong, maka tidak termasuk yang
dilarang dalam hadits tersebut.
Walaupun
diantara hadits-hadits tersebut ada yang tidak menyebut karena sombong, dan ini
merupakan dalil muthlaq, namun hadits-hadits yang lainnya menjelaskan bahwa yang
dilarang itu adalah melabuhkannya karena sombong, dan ini merupakan dalil
muqoyyad. Dan apabila ada dalil muthlaq dan dalil muqoyyad, maka yang dipakai
adalah dalil muqoyyad.
Tentang
isbaal ini memang terjadi perbedaan pendapat di kalangan kaum muslimin, ada yang
berpendapat bahwa isbaal itu dilarang secara muthlaq, namun ada juga yang
berpendapat bahwa yang dilarang itu apabila dilakukan dengan sombong, hal ini
sudah dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar Al-'Asqolaniy di dalam Fathul Baari dalam
kitab Libaas.
Adapun
tentang memakai celana panjang (yang bahasa Arabnya saroowiil) hingga melebihi
mata kaki, sampai sekarang kami belum mendapatkan hadits yang melarangnya.
Walloohu a’lam.
Kisah
Raja Jabalah bin Al-Aiham (Pemimpin Bani Ghassaan)
Di dalam Kitab Ahsanul
Qoshosh disebutkan :
رُوِيَ اَنَّ
اَحَدَ اَكَابِرِ الْمُلُوْكِ وَ هُوَ جَبَلَةُ بْنُ اْلاَيْهَمِ عِنْدَمَا اَرَادَ
الدُّخُوْلِ فِى اْلاِسْلَامِ اَقْبَلَ اِلَى الْمَدِيْنَةِ فِى خَمْسِمِائَةِ
فَارِسٍ عَلَيْهِمْ ثِيَابُ اْلوَشْىِ، وَ هُوَ لَابِسُ تَاجِهِ وَ فِيْهِ قُرْطُ
مَارِيَةَ بِنْتِ ظَالِمٍ زَوْجَةِ الْحَارِثِ اْلاَكْبَرِ الْغَسَّانِيّ، كَانَ
فِيْهِ لُئْلُئَتَانِ عَجِيْبَتَانِ، فَفَرِحَ اَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ عُمَرُ
بِاِسْلَامِهِ وَ فَرِحَ الْمُسْلِمُوْنَ، وَ خَرَجُوْا لِمُقَابَلَتِهِ حَتَّى
حَضَرَ مَوْسِمُ الْحَجّ مِنْ عَامِهِ مَعَ عُمَرَ رض.
Diriwayatkan, bahwa salah
seorang dari pembesar kerajaan, yaitu Jabalah bin Aiham, ketika akan masuk
Islam, ia datang ke Madinah dengan diiringkan oleh lima ratus penunggang kuda
dengan memakai pakaian yang berhias beraneka warna, sedangkan Jabalah memakai
mahkota yang dihiasi dengan perhiasan berupa anting-antingnya Mariyah binti
Dhoolim istri Al-Harits raja Agung di Ghossaan yang padanya ada dua mutiara yang
mengagumkan. Amirul Mu'minin 'Umar bin Khaththab dan kaum muslimin merasa
gembira dengan masuk Islamnya Jabalah bin Aiham itu, lalu mereka keluar untuk
menyambut raja Jabalah tersebut. Kemudian raja Jabalah tinggal di Madinah
bersama 'Umar RA sampai musim hajji pada tahun itu. Kemudian raja Jabalah
menunaikan ibadah hajji.
وَ بَيْنَمَا
هُوَ يَطُوْفُ بِالْبَيْتِ الْحَرَامِ اِذْ وَطِئَ اِزَارَهُ (رِدَاءَهُ) رَجُلٌ
اَعْرَابِيٌّ مِنْ بَنِى فَزَرَاةَ فَحَلَّهُ، فَلَطَمَهُ جَبَلَةُ عَلَى وَجْهِهِ
فَهَشَمَ اَنْفَهُ، فَذَهَبَ اْلاَعْرَابِيُّ اِلَى سَيّدِنَا عُمَرَ لِيَشْكُو
الْمَلِكَ. فَطَلَبَهُ سَيّدُنَا عُمَرُ وَ قَالَ لَهُ: مَا دَعَاكَ يَا جَبَلَةُ
اِلَى اَنْ لَطَمْتَ اَخَاكَ ه?ذَا الْفَزَارِيَّ فَهَشَمْتَ اَنْفَهُ؟ فَقَالَ:
اِنَّهُ وَطِئَ اِزَارِى فَحَلَّهُ. فَقَالَ عُمَرُ: اَمَّا اَنْتَ فَقَدْ
اَقْرَرْتَ، اِمَّا اَنْ تُرْضِيَهُ، وَ اِمَّا اَنْ يَضْرِبَكَ مِثْلَ مَا
ضَرَبْتَهُ. فَعَجِبَ لِذ?لِكَ جَبَلَةُ وَ قَالَ: كَيْفَ يَضْرِبُنِى وَ اَنَا
مَلِكٌ كَبِيْرٌ وَ هُوَ مِنَ السُّوْقَةِ؟ فَلَا يَصِحُّ اَنْ يَضْرِبَنِى كَمَا
ضَرَبْتُهُ، وَ هَلْ اَسْتَوِى اَنَا وَ هُوَ فِى ذ?لِكَ؟ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: يَا
جَبَلَةُ، لَقَدْ جَمَعَكَ وَ اِيَّاهُ اْلاِسْلَامُ. وَ اْلاِسْلَامُ سَاوَي
بَيْنَكُمَا، وَ كُلُّ الْمُسْلِمِيْنَ سَوَاءٌ، لَا فَرْقَ بَيْنَ الْمَلِكِ وَ
الرَّعِيَّةِ، وَ لَا فَضْلَ لِاَحَدٍ عَلَى اَحَدٍ اِلَّا بِالتَّقْوَى. فَقَالَ
جَبَلَةُ: وَ اللهِ، لَقَدْ رَجَوْتُ اَنْ اَكُوْنَ فِى اْلاِسْلَامِ اَعَزُّ مِنّى
فِى اْلجَاهِلِيَّةِ. قَالَ عُمَرُ: هُوَ كَذ?لِكَ. قَالَ جَبَلَةُ: اَخّرْنِى
اِلَى غَدٍ يَا اَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ! قَالَ عُمَرُ: ذ?لِكَ لَكَ. فَلَمَّا
جَنَّ اللَّيْلُ خَرَجَ هُوَ وَ اَصْحَابُهُ فَلَمْ يُثْنِ حَتَّى دَخَلَ
الْقَسْطَنْطِيْنِيَّةِ عَلَى هِرَقْلَ مَلِكِ الرُّوْمِ، فَتَنَصَّرَ وَ اَقَامَ
عِنْدَهُ. احسن القصص
3: 92
Ketika Jabalah sedang
melaksanakan thawaf di Baitul Haram, tiba-tiba kain izaarnya (atau rida'nya)
terinjak oleh seorang laki-laki 'Arab Badui dari suku Bani Fazarah, sehingga
terlepas, lalu Jabalah memukul wajah orang 'Arab Badui itu sehingga patah tulang
hidungnya. Kemudian orang 'Arab Badui itu pergi menghadap khalifah 'Umar untuk
mengadukan perbuatan raja Jabalah tersebut. Kemudian khalifah 'Umar memanggil
raja Jabalah bin Aiham, lalu bertanya, "Hai Jabalah, apa yang menyebabkan kamu
memukul saudaramu orang Bani Fazarah ini sehingga kamu mematahkan tulang
hidungnya ?". Jabalah menjawab, "Dia menginjak kain izaarku sehingga terlepas".
'Umar berkata, "Hai Jabalah, bukankah kamu telah mengakui perbuatanmu ? Sekarang
kamu tinggal pilih, kamu meminta ma'af dan ridlanya orang itu, atau biar orang
itu membalas dengan memukulmu seperti kamu telah memukulnya ?". Jabalah merasa
terkejut dengan keputusan 'Umar itu. Lalu ia berkata, "Bagaimana mungkin dia
akan memukulku, aku adalah raja agung, sedangkan dia adalah rakyat jelata ?
Tidak bisa dia memukulku sebagaimana aku memukulnya, dan apakah aku dan dia sama
tentang hal itu ?". 'Umar berkata kepadanya, "Hai Jabalah, sungguh Islam telah
mengumpulkan kamu dan dia. Islam telah menyamakan antara kamu berdua. Dan semua
orang Islam adalah sama, tidak ada perbedaan antara raja dan rakyat, dan tidak
ada kelebihan seseorang dengan yang lainnya, kecuali dengan taqwa". Lalu Jabalah
berkata, "Demi Allah, sungguh tadinya aku mengira bahwa dengan masuk Islam itu
aku akan lebih mulia daripada diwaktu jahiliyyah". 'Umar berkata, "Ya, memang
demikian". Kemudian Jabalah berkata, "Wahai Amirul Mu'minin, berilah tempo
kepadaku sampai besok pagi". 'Umar berkata, "Ya, aku berikan tempo kepadamu".
Kemudian ketika gelap malam, Jabalah bersama para pengawalnya pergi tanpa
menoleh ke belakang, melarikan diri hingga tiba di Konstantinopel, untuk bertemu
dengan Hiraclius raja Romawi, lalu ia murtad, menjadi orang Nashrani dan tinggal
di situ. [Ahsanul Qoshosh juz 3, hal. 92].
Tentang
Jenggot
Hukum-hukum
agama yang disyari'atkan kepada kita, ada yang tidak diterangkan sebabnya, dan
ada pula yang diterangkan (dijelaskan) sebabnya. Hukum-hukum yang tidak
diterangkan sebabnya oleh Allah atau Rasul-Nya, tidak boleh kita gugurkan dengan
sebab-sebab buatan kita sendiri, seperti daging babi, menurut dokter, padanya
ada satu jenis cacing yang sangat membahayakan kesehatan manusia. Cacing ini
tidak bisa mati melainkan dengan panas 70 derajat. Maka untuk mendapatkan panas
70 derajat ke dalam daging itu perlu dimasak dengan panas 90 derajat. Anggapan
haramnya daging babi disebabkan oleh adanya cacing ini merupakan pemikiran
(buatan) manusia yang tidak berdasarkan alasan agama. Oleh karena itu, walaupun
kita masak sampai hanguspun, maka daging babi itu tidak bisa menjadi
halal.
Adapun
tentang memelihara jenggot, Nabi SAW menjelaskan sebabnya, yaitu supaya berbeda
dengan orang-orang musyrikin atau orang-orang Majusi. Di dalam hadits disebutkan
sebagai berikut :
عَنِ
ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيّ ص اَنَّهُ اَمَرَ بِاِحْفَاءِ الشَّوَارِبِ وَ
اِعْفَاءِ اللّحْيَةِ.
مسلم 1: 222
Dari
Ibnu 'Umar, dari Nabi SAW, bahwasanya beliau menyuruh supaya mencukur kumis dan
memelihara jenggot.
[HR. Muslim juz 1, hal. 222]
عَنِ
ابْنِ عُمَرَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنْهَكُوا الشَّوَارِبَ وَ
اَعْفُوا اللّحَى.
البخارى 7: 56
Dari
Ibnu “umar RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Cukurlah kumis, dan
peliharalah jenggot”.
[HR. Bukhari juz 7, hal. 56]
عَنْ
اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَ اَرْخُوا
اللّحَى خَالِفُوا الْمَجُوْسَ.
مسلم 1: 222
Dari
Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Cukurlah kumismu dan
biarkanlah jenggotmu, hendaklah kalian menyelisihi kaum Majusi”.
[HR. Muslim juz 1, hal. 222]
عَنِ
ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: خَالِفُوا الْمُشْرِكِيْنَ وَفّرُوا اللّحَى
وَ اَحْفُوا الشَّوَارِبَ.
البخارى 7: 56
Dari
Ibnu ‘Umar, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Hendaklah kalian menyelisihi kaum
musyrikin, peliharalah jenggot dan cukurlah kumis”.
[HR. Bukhari juz 7, hal. 56]
عَنِ
ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: خَالِفُوا الْمُشْرِكِيْنَ اَحْفُوا
الشَّوَارِبَ وَ اَوْفُوا اللّحَى.
مسلم 1: 222
Dari
Ibnu ‘Umar, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian menyelisihi
kaum musyrikin, cukurlah kumis dan peliharalah jenggot”.
[HR. Muslim juz 1, hal. 222]
Penjelasan
:
Dalam
hadits-hadits di atas Rasulullah SAW memerintahkan kita supaya menyelisihi kaum
Majusi dan musyrikin tentang jenggot, yaitu hendaklah kita panjangkan jenggot
dan mencukur kumis, karena mereka kaum Majusi dan kaum musyrikin itu tidak
memelihara jenggot, tetapi memelihara kumis. Jadi, yang diperlukan dalam hal ini
adalah perbedaan antara orang Islam dengan orang Majusi dan
musyrikin.
Di
jaman Nabi SAW, kaum Majusi dan musyrikin memakai pakaian yang sama dengan kaum
muslimin. Perbedaan antara kaum muslimin dengan mereka itu tidak nampak. Maka
Nabi SAW menyuruh kita supaya memelihara jenggot dan mencukur kumis agar ada
perbedaan. Maka sekarang, kalau kita bisa mengadakan perbedaan antara kaum
muslimin dengan yang lainnya dengan sesuatu cara, maka tidak ada halangan
tentang mencukur jenggot.
Bahkan,
jenggot tidak berguna kalau tidak menjadi pembeda, sebagaimana sebagian dari
orang-orang India, yang kafir berjenggot dan bersorban, yang Islam juga begitu,
dan seperti sebagian dari orang-orang di negeri China yang kafir mereka memakai
jenggot, maka kalau orang Islam juga berjenggot, maka hal itu tidak menjadikan
pembeda. Walloohu a’lam.Bagikan
Tentang Musbil dan Jenggot
4/
5
Oleh
Fatima
