Jumat, 03 April 2015

Thaharah (03)


بِسْــــــــــــــــمِﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Pengertian Najis dan cara mensucikannya

Najis atau Rijs ialah sesuatu yang dipandang kotor oleh syara’/ hukum agama. Dan ini, berdasar keterangan yang diambil dari ayat dan hadits-hadits, terbagi menjadi 3 :

1. Najis ‘Aqidah, artinya kotor dalam kepercayaan/keyaqinan-nya.

2. Najis untuk dimakan/diminum, artinya benda-benda itu haram untuk dimakan/diminum.

3. Najis disentuh, maksudnya kita diwajibkan untuk mencuci/ membersihkannya bila kita menyentuh/tersentuh benda-benda tersebut.
Dalam bab ini kita hanya akan membahas bab yang no. 3 yakni “Najis disentuh”.

Yang termasuk Najis Disentuh

Menurut qaidah ushul (aturan-aturan untuk menetapkan suatu hukum agama), asal segala sesuatu benda itu adalah halal dan suci serta boleh dipergunakan untuk apasaja, kecuali bila ada keterangan agama yang mencegahnya, baik dari Al-Qur’an maupun dari hadits yang shahih.

Maka untuk menetapkan bahwa sesuatu benda itu najis, wajib ada nash Al-Qur’an atau hadits shahih yang menjelaskannya. Dan sepanjang penelitian kami, yang najis berdasar syara’ sehingga kita diwajibkan mensucikannya adalah :
1. Kotoran manusia

2. Kencing manusia

3. madzi

4. darah haidl

5. darah nifas

1. Kotoran manusia

عَنْ عَائِشَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِذَا ذَهَبَ اَحَدُكُمْ اِلَى اْلغَائِطِ فَلْيَسْتَطِبْ بِثَلاَثَةِ اَحْجَارٍ فَاِنَّهَا تُجْزِى عَنْهُ. احمد و النسائى و ابو داود و الدارقطنى و قال: اسناده صحيح حسن

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda, “Apabila salah seorang diantara kamu pergi buang air besar, maka hendaklah bersuci dengan tiga batu, karena tiga batu itu sudah mencukupinya”. [HR. Ahmad, Nasai, Abu Dawud dan Daruquthni. Daruquthni berkata : Sanadnya shahih hasan]

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رض قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَدْخُلُ اْلخَلاَءَ فَاَحْمِلُ اَنَا وَ غُلاَمٌ نَحْوِى اِدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وَ عَنَزَةً فَيَسْتَنْجِى بِاْلمَاءِ. متفق عليه

Dari Anas bin Malik RA, ia berkata, “Adalah Rasulullah SAW masuk ke tempat buang air, lalu saya dan seorang muda sebaya saya membawakan bejana berisi air dan sebuah tongkat, kemudian Rasulullah SAW beristinjak dengan air itu”. [HR. Muttafaq ‘alaih]

2. Kencing Manusia

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِسْتَنْزِهُوْا مِنَ اْلبَوْلِ فَاِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ اْلقَبْرِ مِنْهُ. الدارقطنى. و للبخارى: اَكْثَرُ عَذَابِ اْلقَبْرِ مِنَ اْلبَوْلِ.

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda, “Bersucilah kamu sekalian dari kencing, karena umumnya adzab qubur itu adalah dari sebab kencing”. [HR. Daruquthni] Dan pada riwayat Hakim, “Kebanyakan adzab qubur itu adalah lantaran kencing”.

عَنْ اَنِسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: جَاءَ اَعْرَبِيٌّ فَبَالَ فِى طَائِفَةِ اْلمَسْجِدِ فَزَجَرَهُ النَّاسُ فَنَهَاهُمُ النَّبِيُّ ص. فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ اَمَرَ النَّبِيُّ ص بِذَنُوْبٍ مِنْ مَاءٍ فَاُهْرِيْقَ. البخارى

Dari Anas bin Malik, ia berkata : Ada seorang Arab gunung datang, lalu kencing di bagian masjid. Kemudian orang banyak sama membentaknya, lalu Nabi SAW melarang mereka berbuat yang demikian. Setelah orang itu selesai dari kencingnya, Nabi SAW memerintahkan supaya mengambil seember air, lalu disiramkanlah air itu di atas kencing orang tersebut”. [HR. Bukhari)

Keterangan :

Dari hadits diatas bisa diambil pengertian bahwa kencing manusia itu adalah najis dan harus dibersihkan.

3. Madzi (air sex) Manusia

Madzi ialah air yang bening dan lekat (pliket) yang keluar dari kemaluan seseorang bila terangsang nafsu sexnya (nafsu syahwatnya). Dan bisa juga keluar disebabkan badan terlalu lelah.

عَنْ عَلِيّ بْنِ اَبِى طَالِبٍ رض قَالَ: كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً فَاسْتَحْيِيْتُ اَنْ اَسْأَلَ رَسُوْلَ اللهِ ص لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَاَمَرْتُ اْلمِقْدَادَ بْنَ اْلاَسْوَدِ فَسَأَلَهُ. فَقَالَ: يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَ يَتَوَضَّأُ. مسلم

Dari ‘Ali bin Abu Thalib RA, ia berkata : Saya adalah seorang laki-laki yang banyak mengeluarkan madzi, karena saya malu untuk bertanya kepada Rasulullah SAW mengingat kedudukan putri beliau (Fathimah), maka saya menyuruh Miqdad bin Aswab (untuk bertanya kepada beliau). Lalu dia bertanya kepada Rasulullah SAW. Kemudian beliau bersabda, “Hendaklah ia cuci kemaluannya dan berwudlu”. [HR. Muslim]

Keterangan :

Dari hadits tersebut bisa diambil pengertian bahwa madzi itu adalah najis dan harus dibersihkan dari badan.

4. Darah Haidl.

Sabda Nabi SAW kepada Fathimah binti Abu Hubaisy :

فَاِذَا اَقْبَلَتْ حَيْضَتِكِ فَدَعِى الصَّلاَةَ وَ اِذَا اَدْبَرَتْ فَاغْسِلِى عَنْكِ الدَّمَ ثُمَّ صَلّى. البخارى

“.... maka apabila datang haidlmu, tinggalkanlah shalat dan apabila sudah berhenti maka cucilah darah itu dari tubuhmu, kemudian shalatlah”. [HR. Bukhari]

Keterangan :

Dari hadits tersebut bisa diambil pengertian bahwa darah haidl itu najis dan harus dibersihkan dari badan.

5. Darah Nifas

Darah nifas ialah darah yang keluar ketika seorang wanita melahirkan dan sesudahnya. Wanita yang sedang nifas tidak boleh shalat sebagaimana wanita yang sedang haidl, sebagaimana hadits dibawah ini :

عَنْ اُمّ سَلَمَةَ قَالَتْ: كَانَتِ النُّفَسَاءُ تَقْعُدُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيّ ص بَعْدَ نِفَاسِهَا اَرْبَعِيْنَ يَوْمًا. الخمسة الا النسائى و اللفظ لابى داود

Dari Ummu Salamah, ia berkata, “Adalah wanita-wanita yang nifas di zaman Nabi SAW duduk (tidak shalat) setelah melahirkan selama empat puluh hari”. [HR. Khamsah kecuali Nasai dan lafadh itu bagi Abu Dawud]

Keterangan :

Dari hadits tersebut bisa diambil pengertian bahwa wanita yang nifas itu hukumnya sama dengan wanita yang haidl yaitu sama-sama tidak boleh mengerjakan shalat, oleh sebab itu darah nifas pun hukumnya sama dengan darah haidl yaitu najis.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

Bagikan

Jangan lewatkan

Thaharah (03)
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.